<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8529594036772229025</id><updated>2009-10-12T23:15:50.021-07:00</updated><title type='text'>SYALLOMDAILYNEWS</title><subtitle type='html'>Syallomdailynews merupakan media komunikasi dan informasi bagi insan pergerakan mahasiswa Kristen di Indonesia.
Selain itu media ini merupakan wadah untuk menampung berbagai pandangan kritis seputar permasalahan Ekosospolbud, Hukum dan HAM. jika anda merupakan bagian dari komunitas pergerakan mahasiswa Kristen di Indonesia atau anda yang memiliki minat pada masalah-masalah seperti di atas, maka kami mengajak anda untuk bergabung dalam media ini. Trims</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25'/><author><name>SYALLOMDAILYNEWS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11374954624384231372</uri><email>noreply@blogger.com</email></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>38</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8529594036772229025.post-7774606392468081435</id><published>2007-02-10T23:47:00.000-08:00</published><updated>2007-01-17T05:33:52.264-08:00</updated><title type='text'>PERLU REVITALISASI GMKI</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Refleksi Dies Natalis GMKI ke-57 (9 Februari 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;MASIH adakah Indonesia ke depan? Akan seperti apa Indonesia ketika tanah airnya tempat berpijak telah semakin rusak. Hancur dan tenggelam. Sementara, warganya pun bernasib malang tertimpa bencana demi bencana menjadi korban dan lenyap. Di tambah jika pemimpin negaranya tak lagi mampu menyelamatkan rakyat dan tanah airnya? Itulah keresahan yang mengiringi duka bangsa dan negara, yang dirasakan dan terus berusaha bangkit dari masa transisi yang berkepanjangan, bangun dari masa krisis multidimensi yang masih melanda  saat menghadapi bencana demi bencana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;Pertanyaan tersebut, masih adakah Indonesia, menjadi cermin dari keadaan sebuah bangsa dan negara yang akan mengalami kepunahan &lt;i&gt;(the end of state)&lt;/i&gt; sebagaimana itu terjadi dalam rentang sejarah dunia. Kita masih ingat bagaimana porak-porandanya negara adi daya Uni Sovyet yang hancur berkeping-keping, terpecahnya Jerman, dan hilangnya sebuah negara yang bernama Yugoslavia. Bukan mustahil, keadaan yang tak pernah kita harapkan, hancurnya sebuah negara dan punahnya sebuah Indonesia, akan dialami oleh bangsa Indonesia. Semua itu akan bergantung pada kemampuan menjaga dan memelihara eksistensi ke-Indonesia-an sebagai sebuah bangsa dan negara. Kuncinya menurut hemat saya adalah bergantung pada bagaimana sebuah bangsa mampu menyiapkan generasi dan regenerasi yang dapat menjamin keberlangsungan dan kesiapan yang memadai untuk masa depan Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;Dalam konteks itulah, mengiringi peringatan ke 57 Tahun hari ini 9 Februari 2007, hari  lahirnya Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), saya mengajak seluruh anggota GMKI (baik anggota biasa maupun anggota luar biasa) untuk merenungkan tentang apa yang dapat kita persembahkan untuk menyelamatkan Indonesia, saat ini dan ke depan. Sebuah harapan, optimisme dan keyakinan, bahwa bangsa kita akan tetap mampu keluar dari krisis dan mampu menegakkan pilar-pilar kebangsaan dengan dikawal oleh generasi bangsanya yang terpanggil dengan tulus dan penuh pengabdian untuk berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara melalui 3 medan pelayanan GMKI yakni Gereja, Perguruan Tinggi dan Masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;Sekilas&lt;/b&gt; &lt;b&gt;Historis&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Kehadiran dan kontribusi GMKI dalam Gerakan Kebangsaan dan Gerakan Oikumene telah lahir sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, meskipun nama organisasi ini sendiri baru lahir pada 9 Februari 1950 melanjutkan usaha dari &lt;i&gt;Christelijke Studenteen Vereeniging of Java&lt;/i&gt;, yang berdiri pada tanggal 28 Desember 1932 di Kaliurang, GMKI senantiasa hadir dan terus berupaya memberi kontribusinya dalam kehidupan kegerejaan, kehidupan bangsa dan negara serta kehidupan intelektual generasi muda/mahasiswa. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;Hingga saat ini GMKI telah memiliki lebih dari 50 cabang di beberapa kota perguruan tinggi di tanah air sebagai tempat berhimpunnya mahasiswa kristen di kota perguruan tinggi. Disamping itu, GMKI juga memiliki Yayasan Bina Darma (YBD) di Kota Salatiga (yayasan yang dibentuk atas kerjasama Pengurus Pusat GMKI dan Rektor Universitas Kristen Satya Wacana) pada tanggal 17 Agustus 1979. Salah tujuan didirikannya YBD adalah untuk mencetak anggota GMKI menjadi manusia sosial yang tidak hanya mempunyai kemampuan teknis tetapi juga memiliki kemampuan analitis. Sehingga tak heran GMKI telah melahirkan kader-kader yang berperan dalam proses pembangunan, baik di bidang sosial, bidang politik, maupun di bidang ekonomi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;Kini di era reformasi dimana hak berbicara, berekspresi, berserikat, dan berpendapat dibuka lebar, sejatinya dapat dijadikan momentum emas bagi GMKI untuk meneguhkan kembali posisi dan perannya di tengah-tengah kehidupan kaum muda sebagai kekuatan sosial dan sumber perubahan. Namun, di tengah publik luas, agaknya GMKI masih dicitrakan sebagai organisasi yang cenderung eksklusif serta tak berpihak pada kepentingan rakyat banyak. Pencitraan ini muncul antara lain karena kenyataan bahwa GMKI kurang memiliki kepedulian dan belum mampu ikut menjawab masalah-masalah yang kini mendera rakyat seperti kemiskinan, kelaparan, rendahnya pendidikan, pengangguran, dan lain sebagainya.  &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;GMKI masih mengidap penyakit kanker yang ganas merasuk di dalam tubuhnya yaitu : politiking, pragmatisme, dan primordialisme. Ketiga mentalitas dan karakter itulah yang harus segera dibongkar dan dimusnahkan terutama oleh para pimpinan dan pengurusnya di setiap tingkatan (Pusat, Cabang dan Komisariat). Selama penyakit itu bersemayam di dalam pemikiran, tindakan dan perilaku kepemimpinan di tubuh GMKI, selama itu pula GMKI akan mengalami cacat dan kemudian lumpuh. GMKI tak akan banyak berbuat, jangankan untuk menyelamatkan Indonesia, menyelamatkan dirinya saja tak berdaya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;Revitalisasi GMKI Baru&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;Keberadaan GMKI tidak mungkin dihapuskan dalam goretan sejarah kepemudaan di jaman Orde Baru. Seluruh organisasi kepemudaan maupun kemasyarakatan pada masa Orde Baru tidak bisa lepas dari kendali kekuasaan yang terpusat pada satu orang (Soeharto). Terpusatnya kekuasaan tersebut didukung dengan pendekatan keamanan demi stabilitas nasional, membuat negara begitu kuat dan masyarakat lemah. Lemahnya masyarakat ini diperparah lagi dengan strategi korporasi lewat pendirian sejumlah organisasi kemasyarakatan maupun profesi yang merepresentasikan kepentingan sang penguasa. Oleh karena itu, pendirian PWI misalnya dimaksudkan untuk mengendalikan wartawan; KADIN untuk mengontrol kalangan pengusaha; HKTI untuk mengontrol petani; HNSI untuk mengontrol nelayan, KOWANI untuk mengendalikan kaum wanita; MUI untuk mengendalikan para ulama dan KNPI untuk mengkooptasi pemuda (termasuk GMKI saat itu masih anggota KNPI).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;Tak heran bila sebagian masyarakat masih mencitrakan organisasi ini tak ubahnya seperti ormas-ormas lainnya di masa Orde Baru yang menutup mata terhadap berbagai penyimpangan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Bahkan dianggap masih menjadi sarana kooptasi aspirasi kepemudaan yang cenderung elitis, prokekuasaan, dan eksklusif. Di tengah berbagai persoalan yang dihadapi rakyat dewasa ini, GMKI yang mewadahi potensi kaum muda/mahasiswa kristen hendaklah mentransformasikan diri menjadi kekuatan &lt;i&gt;civil society&lt;/i&gt; yang mandiri, kuat, berdaya, kritis, kreatif, inovatif, dan memberikan solusi atas berbagai permasalahan yang berkembang di masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kekuatan &lt;i&gt;Civil Society &lt;/i&gt;Baru&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; Tidak seperti di era Orde Baru dimana pemerintah menjadi aktor dominan yang mengontrol segala macam kekuasaan dengan Soeharto sebagai figur sentral, kini pemerintahan demokratis membuka peluang lebar bagi munculnya aktor-aktor politik baru. Di masa lalu, pemerintah, khususnya presiden, mengontrol segala aspek proses politik sehingga parlemen tak memiliki kekuatan untuk mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah yang merugikan kepentingan rakyat. Kini justru parlemen menjadi penyeimbang kekuasaan eksekutif.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;Karena pemerintah tak lagi menjadi aktor dominan, maka parlemen idealnya menjadi tempat saluran formal bagi berbagai macam tuntutan dan aspirasi rakyat. Akan tetapi, ironinya parlamen masih belum menjadi harapan yang selama ini diidam-idamkan sebagian besar masyarakat. Justru, sebaliknya, parlemen sibuk dengan manuver-manuver politik yang merepresentasikan kepentingan partai belaka, seraya mengabaikan kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Pada saat yang bersamaan, di tubuh partai politik itu sendiri terjadi konflik-konflik dan perebutan kekuasaan sehingga berbagai permasalahan yang kini tengah didera rakyat –seperti kemiskinan, pengangguran, dan kelaparan-luput dari perhatian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;Ketika parlemen dan partai-partai politik sibuk dengan urusannya sendiri, GMKI sebagai wadah berkumpulnya mahasiswa kristen Indonesia sejatinya bisa memainkan peran sebagai kekuatan &lt;i&gt;civil society &lt;/i&gt;yang mengawasi jalannya proses demokratisasi. Sebab, proses demokratisasi di tanah air tampaknya tak cukup hanya diserahkan kepada partai-partai politik yang kini cenderung berebut kekuasaan untuk menempatkan kader-kadernya di kabinet. Itu sebabnya, kehadiran GMKI sebagai kekuatan &lt;i&gt;civil society &lt;/i&gt;sangatlah relevan di tengah carut-marut kehidupan bangsa dan negara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;Tampaknya kondisi saat ini membutuhkan kehadiran &lt;i&gt;civil society &lt;/i&gt;yang tidak hanya melancarkan kritik semata, melainkan juga memberikan tawaran solusi atas berbagai persoalan yang kini dihadapi bangsa dan negara. Suatu &lt;i&gt;civil society &lt;/i&gt;yang bersinergi dengan negara agar berbagai kebijakan yang dikeluarkannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat.  Dengan membangun sinergi dengan negara tidak berarti GMKI sebagai kekuatan &lt;i&gt;civil society &lt;/i&gt;kehilangan daya kritisnya. Justru pada saat yang bersamaan ia bisa menjadi penyeimbang antara kekuasaan negara dan kedaulatan rakyat sekaligus bisa berfungsi juga sebagai kekuatan kontrol sosial. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;Dengan menempatkan GMKI sebagai basis kekuatan masyarakat sipil yang demokratis, maka GMKI diharapkan akan tetap ikut menjaga eksistensi ke-Indonesia-an. GMKI masih dianggap penting karena di dalamnya mewadahi kekuatan generasi muda/mahasiswa sebagai generasi bangsa. GMKI juga menjadi wadah dan organisasi yang masih efektif untuk membangun solidaritas sosial dan soliditas sebuah generasi bangsa. Di dalam kelembagaan GMKI, perjuangan eksistensi ke-Indonesia-an masih tetap menjadi komitmen final karena GMKI menyandang nilai-nilai kebangsaan yang saat ini patut dilestarikan dan tidak dapat terjaga dengan sendirinya,melainkan harus terus menerus dijaga revitalisasinya seperti semangat sebagai sebuah bangsa dan negara bersatu, GMKI, Pancasila. Dan yang terutama, GMKI secara alami terkait dengan regenerasi dan alih kepemimpinan yang akan terus berlangsung kontinyu dalam sirkulasi perjalanan bangsa dan negara. Tinggilah Imanmu, Tinggilah Ilmumu, Tinggilah Pengabdianmu. Selamat Ulang Tahun Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia ke-57. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;Ut Omnest Unum Sint&lt;/b&gt;. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8529594036772229025-7774606392468081435?l=syallomdailynews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/feeds/7774606392468081435/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8529594036772229025&amp;postID=7774606392468081435' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/7774606392468081435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/7774606392468081435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/2007/02/perlu-revitalisasi-gmki.html' title='PERLU REVITALISASI GMKI'/><author><name>SYALLOMDAILYNEWS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11374954624384231372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04405838010604872937'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8529594036772229025.post-2804293020771890600</id><published>2007-01-17T05:26:00.000-08:00</published><updated>2007-01-17T05:33:52.290-08:00</updated><title type='text'>MENELUSURI SEJARAH DI NTT LEWAT MUSEUM DAERAH</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh&lt;/span&gt; &lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in; font-weight: bold;" align="left"&gt;Didit Ernanto&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in;" align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in; text-align: justify;"&gt;KUPANG - Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki tiga museum, yaitu Museum Daerah NTT yang ada di Kota Kupang, Museum Bikonblewut di Maumere, Kabupaten Sikka, dan Museum Siput di Larantuka, Kabupaten Flores Timur. SH beruntung dapat berkunjung ke salah satu museum yang ada di provinsi berjuluk “Pintu Gerbang Selatan Kawasan Asia Pasifik” ini.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Museum yang sempat dikunjungi adalah Museum Daerah NTT. Memasuki museum yang terletak di kawasan Jl El Tari, Kota Kupang ini seakan merupakan napak tilas peristiwa di masa lalu yang terjadi di NTT. Berbagai benda koleksi museum mengajak kita menelusuri sejarah NTT, mulai dari zaman batu, zaman perunggu, zaman penjajahan, hingga peristiwa yang terjadi belum lama ini.  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in; text-align: justify;"&gt;"Semua benda merupakan temuan di NTT," papar Rosalia, staf Museum Daerah NTT.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in; text-align: justify;"&gt;Benda purbakala yang menjadi koleksi antara lain tengkorak manusia purba homo florensis yang ditemukan di Ruteng, Manggarai. Tengkorak ini diperkirakan berumur 95.000-11.000 tahun.  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in; text-align: justify;"&gt;Kemudian ada berbagai senjata yang dimiliki oleh manusia purba, di antaranya adalah kapak perunggu. Benda arkeolog ini merupakan bukti mozaik perjalanan kehidupan manusia berikut budaya pra sejarah di NTT. Perjalanan sejarah yang panjang yang diwarnai dengan nilai-nilai tradisi dan kehidupan masyarakat tradisional.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in; text-align: justify;"&gt;Tradisi dari masyarakat tradisional yang ada di NTT ini diperlihatkan melalui berbagai benda seperti berbagai jenis gerabah serta benda yang disebut mokokukang. Mokokukang merupakan mas kawin yang berlaku di Suku Abui. "Sampai sekarang mokokukang masih dipakai sebagai maskawin," tutur Rosalia. Pemberian mokokukang sebagai maskawin juga menjadi simbol status yang berlaku di Suku Abui. Mokokukang terbuat dari perunggu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in; text-align: justify;"&gt;Koleksi Museum Daerah NTT yang banyak menarik perhatian adalah rumah tradisional suku-suku di NTT. Rumah tradisional berbentuk setengah lingkaran yang terbuat dari alang-alang ini merupakan pusat kegiatan masyarakat tradisional. Mulai dari tidur sampai memasak dilakukan di dalam rumah. Hal tersebut disimbolkan dalam bentuk tiang rumah yang disebut dengan ni ainaf atau tiang feminin.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in; text-align: justify;"&gt;Tiang lainnya disebut hau monef atau tiang maskulin. Rumah tradisional ini dilengkapi dengan tempat persembahan yang disebut dengan hau monef. Rumah tradisional ini memiliki nama yang berbeda-beda. Di Alor disebut tofa dan di Ende disebut dengan saoria. Biasanya hanya keluarga inti yang menempati rumah tradisonal ini.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in; text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;Bendera Satu Kilometer&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in; text-align: justify;"&gt;Benda-benda lainnya adalah alat-alat tenun ikat dan produk tenun ikat khas NTT. Tak lupa pula baju adat seperti yang berasal dari Alor. Kemudian ada berbagai persenjataan di zaman penjajahan seperti peluru kendali, pedang bersarung peninggalan Belanda yang ditemukan di Ngada, Flores, serta berbagai peralatan maritim seperti teropong, lampu, dan meriam. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in; text-align: justify;"&gt;Benda lainnya yang merupakan peninggalan pada zaman penjajahan adalah ranjau laut yang dipakai pada Perang Dunia II. Sementara itu, benda peninggalan zaman abad ke-19 berupa keramik eropa. Berbagai keramik berbentuk seperti piring dan mangkuk ini berasal dari Skotlandia dan Belanda.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in; text-align: justify;"&gt;Koleksi lain yang mewakili abad 20 adalah tulang ikan paus sepanjang 20 meter. Tulang ini merupakan tulang dari ikan paus yang ditemukan di Pantai Pasirpanjang, Kupang, tahun 1972. Tulang ikan paus ini ditempatkan di ruangan terpisah. Di antara tulang ikan paus ini dipamerkan pula perahu tradisional yang dipakai untuk memburu ikan paus.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in; text-align: justify;"&gt;Tersisa satu cerita menarik tentang perburuan ikan paus tersebut. Konon, ikan paus tersebut diburu nelayan di Pantai Pasirpanjang. Kendati sempat terkena tombak nelayan, ikan paus ini tidak serta-merta mati. Ikan paus sempat melarikan diri ke perairan lainnya. Namun sebelum mati, ikan paus tersebut kembali lagi ke kawasan Pantai Pasirpanjang.  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in; text-align: justify;"&gt;Satu koleksi Museum Daerah NTT yang tak boleh dilewatkan adalah bendera Merah Putih sepanjang satu kilometer. Bendera Merah Putih ini dibuat oleh Front Pembela Merah Putih yang dikomandoi oleh Eurico Guiterez semasa jajak pendapat di Timor Timur sekitar tahun 1999.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-top: 0.07in; margin-bottom: 0.07in; text-align: justify;"&gt;Keberadaan Museum Daerah NTT memang laik dikunjungi oleh pelancong yang benar-benar ingin mengetahui tentang sejarah kehidupan dan peristiwa yang terjadi di NTT. (Sinar Harapan/wmat)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8529594036772229025-2804293020771890600?l=syallomdailynews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/feeds/2804293020771890600/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8529594036772229025&amp;postID=2804293020771890600' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/2804293020771890600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/2804293020771890600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/2007/01/menelusuri-sejarah-di-ntt-lewat-museum.html' title='MENELUSURI SEJARAH DI NTT LEWAT MUSEUM DAERAH'/><author><name>SYALLOMDAILYNEWS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11374954624384231372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04405838010604872937'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8529594036772229025.post-7948117385864086688</id><published>2007-01-05T03:52:00.000-08:00</published><updated>2007-01-05T22:04:55.008-08:00</updated><title type='text'>MENGEMBALIKAN FUNGSI PERBANKAN</title><content type='html'>&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;&lt;strong&gt;Oleh: Rachmad Satriotomo&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;&lt;strong&gt; *)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;tt&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;BANK&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;, sebagaimana mestinya adalah intermediator yang&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;berfungsi&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;menyalurkan uang dari pemilik modal kepada&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;sektor riil yang&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;membutuhkan modal. Bank idealnya&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;mengumpulkan dana dari&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;masyarakat pemilik modal untuk&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;kemudian disalurkan kembali kepada&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;komponen masyarakat&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;yang lain yang membutuhkan modal tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;Dengan&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;demikian maka sektor perbankan telah menjalankan&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;fungsi&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;intermediasinya sebagai mediator antara &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;sector &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;finansial dengan sektor&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;riil. Namun realitas yang&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;terjadi ternyata tidak selalu demikian. Bank&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;memang&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;menjalankan fungsinya yang pertama, yaitu mengumpulkan&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;dana masyarakat secara konsisten, tapi tidak selalu&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;konsisten dalam&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;menyalurkan dana tersebut ke &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;sector &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;riil. Yang terjadi saat ini adalah&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;Bank mengumpulkan&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;dana publik tersebut untuk kemudian diputar&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;kembali di&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;sektor finansial, seperti SBI.&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;Tingkat Suku Bunga Perbankan&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;Dunia perbankan yang menjalankan&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;fungsi&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;intermediasinya dengan benar seharusnya memiliki&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;tingkat suku&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;bunga yang kompetitif terhadap return&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;investasi di sektor riil. Sektor riil&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;lah yang&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;`memberi makan' sekor finansial, sektor riil lah yang&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;menentukan penghasilan sektor finansial, bukan &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;sector &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;finansial yang&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;menentukan berapa harga yang harus&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;dibayar oleh sektor riil&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;kepadanya. Namun yang terjadi&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;saat ini tidaklah seperti itu, tingkat&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;suku bunga&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;perbankan terus naik tanpa disertai kemampuan &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;sector &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;riil&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;untuk membayarnya. Hal ini dapat terjadi karena&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;tingkat suku bunga&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;yang ditawarkan instrumen &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;financial &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;lebih menjanjikan ketimbang&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;return berinvestasi di&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;sektor riil, akibatnya suku bunga pinjaman pun&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;meningkat. Keadaan ini mengakibatkan return &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;sector &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;riil tidak lagi&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;kompetitif terhadap suku bunga&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;pinjaman karena tingkat suku bunga&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;perbankan lebih&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;dipengaruhi oleh suku bunga instrumen &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;financial &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;seperti SBI daripada oleh kinerja sektor riil.&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;Akibatnya jelas, sektor riil&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;menjadi lesu akibat&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;kekurangan modal yang berujung pada meluasnya&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-family:'Bookman Old Style';"&gt;pengangguran.&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;tt&gt;&lt;/tt&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;tt&gt;&lt;strong&gt;BI Rate&lt;/strong&gt;&lt;/tt&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;tt&gt;Setelah terus turun secara agresif, BI rate per 7 November 2006 berada pada kisaran 10.25%, dengan ekspektasi inflasi sekitar 8 persen, maka saat ini Indonesia menawarkan suku bunga riil sekitar 2.25%, jumlah yang ternyata masih cukup besar mengingat Amerika Serikat saja hanya mampu menawarkan suku bunga riil dibawah 2%. Maka tidak mengherankan jika instrumen keuangan kita seperti SBI dan SUN laris dibeli investor asing. Uang pun mengalir ke dalam negeri, efeknya adalah rupiah menguat yang berimbas pada surplusnya perdagangan kita, cadangan devisa pun menguat. Yang perlu diingat adalah uang tersebut bersifat short term investment yang sewaktu-waktu dapat keluar dari Indonesia, dengan kata lain penguatan rupiah itu pun menjadi bersifat sementara dan labil. Tapi, bukankah yang terpenting dalam perkeonomian adalah stabilitas? Lalu untuk apa kita mengejar uang panas seperti itu?&lt;/tt&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;tt&gt;&lt;/tt&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;tt&gt;&lt;br /&gt;Tak ubahnya investor asing, investor domestik pun tidak mampu menampik BI rate yang demikian menggiurkan. Hal ini terlihat dari dana perbankan yang tidak masuk ke sektor riil, per Mei 2006 dana itu mencapai Rp 393 triliun atau sekitar sepertiga dari total dana masyarakat yang diserap perbankan. Dana tersebut diputar lagi di sektor finansial melalui instrumen seperti SBI dan SUN. Celakanya lagi, bahkan Pemda pun ikut-ikutan membeli SBI melalui BPD(Bank Pembangunan Daerah)-nya. Dana perimbangan daerah yang sedianya untuk mempercepat pertumbuhan di daerah malah digunakan untuk mencari uang di sektor finansial. Per Maret 2006, kepemilikan BPD di SBI mencapai Rp 70 triliun atau sepertiga dari total dana perimbangan daerah. Akibatnya adalah pembangunan infrastruktur di daerah menjadi terbengkalai. Ironis, mengingat dana perimbangan daerah sejatinya digunakan untuk mengurangi kesenjangan antara pusat dengan daerah melalui pembangunan berbagai sarana dan prasarana, bukannya untuk digandakan di pasar uang.&lt;/tt&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;tt&gt;&lt;/tt&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;tt&gt;&lt;br /&gt;Efek lain yang harus ditanggung dengan BI rate yang tinggi adalah tingginya biaya pengendalian moneter. Pada tahun 2005 biaya pengendalian moneter mencapai Rp 18 triliun dan pada tahun 2006 ini diperkirakan akan mencapai Rp 20 triliun. Dana ini diambil dari APBN, dimana komponen penerimaan terbesar dalam APBN kita adalah dari sektor pajak. Sedangkan tujuan pajak sendiri adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan fasilitas publik. Artinya, alih-alih pajak yang dibayarkan akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, ternyata malah digunakan untuk membayar uang yang menganggur&lt;/tt&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;tt&gt;&lt;/tt&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sistem Alternatif&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sistem ekonomi kita yang sekarang yang memberi ruang sangat besar pada sektor finansial untuk melakukan spekulasi ternyata menimbulkan efek-efek yang tidak ramah kepada kesejahteraan publik. Tindakan spekulasi yang mampu mencetak untung dan rugi dalam waktu singkat, membuat orang menjadi malas berinvestasi di sektor riil. Karena sifatnya yang instan, orang jadi lebih tertarik melakukan spekulasi ketimbang investasi, kasarnya orang lebih suka berjudi dari pada bekerja (Tapi karena orang suka, maka spekulasi tidak disebut judi, tapi diperhalus menjadi investasi jangka pendek). Apalagi dengan adanya instrumen keuangan berbasis negara seperti SBI dan SUN yang boleh dikatakan tanpa risiko default, membuat kegiatan spekulasi ini makin menyenangkan. Contohnya adalah suku bunga SBI, tingginya suku bunga SBI adalah menyenangkan bagi pemilik modal, tapi sebaliknya bagi dunia usaha. Intervensi SBI terhadap tingkat suku bunga perbankan dirasa sudah mengganggu keseimbangan pasar uang, suku bunga SBI yang tinggi membuat harga uang menjadi mahal, akibatnya sektor riil harus bekerja lebih keras untuk membiayai operasionalnya. Jika suku bunga terlalu tinggi, sektor riil yang bekerja dan menanggung risiko usaha justru biasanya hanya mendapat sedikit dari hasil usahanya, sebagian besar habis untuk membayar bunga yang tinggi, sedangkan sektor finansial yang tidak bekerja dan tidak menanggung risiko justru mencetak laba yang tinggi. Bukankah yang seperti ini bisa dibilang pemerasan sistematis? Skenario paling pesimisnya adalah bahwa sektor perbankan saat ini disebut sebagai mesin transfer yang memindahkan uang secara otomatis dari tempat yang kekurangan uang (debitor) ke tempat yang kelebihan uang (kreditor).&lt;/tt&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;tt&gt;&lt;/tt&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;tt&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada cara lain, untuk menyelamatkan perekonomian, kita harus membenahi dulu sistem perbankan kita dengan cara mengembalikan logika bahwa sektor riil-lah yang menentukan pendapatan sektor finansial, bukan sector finansial yang menetapkan harga yang harus dibayar oleh sektor riil atas dana yang dipinjamnya. Jadi menurut saya sudah jelas, bahwa sudah saatnya bagi kita untuk mengakui bahwa sistem ekonomi bunga tidak mampu dalam memberikan manfaat ekonomi bagi seluruh komponen masyarakat, terutama masyarakat ekonomi lemah. Jadi mari kita katakan, welcome free interest economy. (rrk/wmat).&lt;/tt&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;tt&gt;&lt;/tt&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;*) Staf Divisi Kajian &amp;amp; Riset Kanopi IE-FEUI&lt;/em&gt;&lt;/tt&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8529594036772229025-7948117385864086688?l=syallomdailynews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/feeds/7948117385864086688/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8529594036772229025&amp;postID=7948117385864086688' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/7948117385864086688'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/7948117385864086688'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/2007/01/mengembalikan-fungsi-perbankan.html' title='MENGEMBALIKAN FUNGSI PERBANKAN'/><author><name>SYALLOMDAILYNEWS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11374954624384231372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04405838010604872937'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8529594036772229025.post-2405020774804580395</id><published>2007-01-05T03:47:00.000-08:00</published><updated>2007-01-05T03:51:50.785-08:00</updated><title type='text'>KISAH DARI BANDA ACEH</title><content type='html'>&lt;tt&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ini kisah saudara kami di &lt;span id="lw_1167996784_0"&gt;Aceh&lt;/span&gt;, yang lagi sibuk Pesta Pilkada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;tt&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ada seorang &lt;span id="lw_1167996784_1"&gt;Aceh&lt;/span&gt; dari kabupaten Pidie, menulis surat kepada anaknya yang ada dipenjara Nusa Kambangan karena dituduh terlibat GAM (Gerakan &lt;span id="lw_1167996784_2"&gt;Aceh&lt;/span&gt; Merdeka). Bunyinya: "Hasan, bapakmu ini sudah tua, sekarang sedang musim tanam jagung, dan kamu ditahan di penjara pula, siapa yang mau bantu bapak mencangkul kebun jagung ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Eh, anaknya membalas surat itu beberapa minggu kemudian. "Demi Tuhan, jangan cangkul itu kebun, saya tanam senjata di sana," kata si anak dalam surat itu. Rupanya surat itu disensor pihak rumah tahanan, maka keesokan harinya setelah si bapak terima surat, datang satu peleton tentara dari kota Medan. Tanpa banyak bicara mereka &lt;span id="lw_1167996784_3"&gt;segera&lt;/span&gt; ke kebun jagung dan sibuk seharian mencangkul tanah di kebun tersebut. Setelah mereka pergi, kembali si bapak tulis surat ke anaknya.&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="IN"&gt;"Hasan, setelah bapak terima suratmu, datang satu peleton tentara&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="IN"&gt;mencari senjata di kebun jagung kita, namun tanpa hasil. Apa yang&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="IN"&gt;harus bapak lakukan sekarang?"&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Si anak kembali membalas surat tersebut, "Sekarang bapak mulailah&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="IN"&gt;menanam jagung, kan sudah Bantu dicangkul sama tentara. Jangan&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="IN"&gt;lupa ngucapin terima kasih sama mereka." Pihak rumah tahanan yang&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;tt&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="IN"&gt;menyensor surat ini bengong dan jatuh pingsan. (rrk/wmat)&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;tt&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/tt&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8529594036772229025-2405020774804580395?l=syallomdailynews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/feeds/2405020774804580395/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8529594036772229025&amp;postID=2405020774804580395' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/2405020774804580395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/2405020774804580395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/2007/01/kisah-dari-banda-aceh.html' title='KISAH DARI BANDA ACEH'/><author><name>SYALLOMDAILYNEWS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11374954624384231372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04405838010604872937'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8529594036772229025.post-2979426800071979532</id><published>2007-01-01T20:52:00.000-08:00</published><updated>2007-01-01T20:56:42.610-08:00</updated><title type='text'>MENYAMBUT TAHUN 2007</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;font-size:100%;"&gt;Oleh: WILSON M.A. THERIK, S.E *)&lt;/span&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt; SORE ITU, setelah saya selesai mengikuti perayaan Natal Oikumene di lingkungan Asrama Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga bersama dengan umat nasrani di sekitar Asrama tempat saya tinggal selama studi di Program Pascasarjana UKSW, puluhan kaum Ibu asyik ngobrol ke sana ke mari. Mulai dari berita selebritis, berita lumpur lapindo, bencana alam dan janji-janji bantuan yang tak pernah datang, berita &lt;i&gt;smackdown&lt;/i&gt;, berita politik terkini, kenaikan harga beras, sampai pada gaji suami mereka yang tidak ikut naik, mereka bahas. Tapi, yang menarik ketika itu dibahas, dan mengajak kita pada sebuah perenungan adalah, saat dipertanyakan apakah kita masih bisa menjalani Tahun 2007, yang agaknya makin penuh dengan tantangan? Ketika kaum ibu yang notabene berumur antara 30 sampai 60-an tahun itu membahasnya. Salah seorang ibu yang berprofesi sebagai manajer di sebuah perusahaan swasta berkata, “harga beras dan sembako pada naik, tapi gaji kita di kantor tetap saja &lt;i&gt;segitu&lt;/i&gt;. Sedangkan kebutuhan sehari-hari makin meningkat, apa kita &lt;i&gt;nggak&lt;/i&gt; pusing”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt; Lalu, seorang ibu yang hanya mengandalkan suaminya yang seorang sopi angkutan umum untuk memenuhi nafkah keluarganya, menanggapi “kamu masih enak, dapat gaji tiap bulan dari kantor. Dan suamimu masih dapat tunjangan kesehatan dari kantor kalau ada keluarganya yang sakit. Sekarang biaya berobat pun mahal, apa kita tak babak-belur. Belum lagi pengangguran makin bertumpuk. Kemarin ada seorang karyawan yang membakar kantornya, karena ia di pecat. Bayangkan, dia hanya digaji Rp500.000 per bulan dengan anak dua dan seorang istri, tapi pimpinannya masih tega pecat dia di saat krisis ekonomi sekarang. Di satu sisi karyawan tadi gelap mata, karena merasa tak bisa berbuat apa-apa lagi kalau ia di-PHK. Di sisi lain, pimpinannya tak berpikir panjang dalam membuat sebuah keputusan, sehingga kantornya pun dibakar. Ini-lah realitas hidup yang membuat kita makin khawatir dan resah. Sehingga kita serahkan saja hidup kita ini pada Tuhan” katanya pasrah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt; Seorang ibu lagi ikut memberi pendapatnya, dia mengeluhkan pengeluaran dalam rumah tangganya, yang katanya makin banyak. Mulai dari membeli kebutuhan sehari-hari, ongkos dan jajan anak-anak di sekolah serta biaya-biaya lain yang kian meningkat. “Sedangkan suami saya hanya bergaji Rp1 Juta sebulan, bagaimana mau menghidupi dua anak kalau tinggal di Salatiga ini”, kata ibu rumah tangga itu. Kemudian datang seorang Bapak untuk menghibur dan memberi solusi. “Meskipun keadaan ekonomi, politik dan keamanan di tengah negara ini makin tak menentu, sebagai pengikut Kristus kita harus tetap  beriman. Beriman artinya, tak cukup hanya berdoa. Kita harus berjuang, karena ciri orang beriman adalah bekerja sambil berdoa. Karena iman tanpa perbuatana adalah sia-sia. Krisis ekonomi yang kita alami memang kadang diizinkan Tuhan agar kita makin dewasa dan lebih kreatif.” Terangnya &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt; Si Bapak yang juga karyawan di sebuah kantor swasta, dan aktif di kegiatan gerejawi ini menambahkan, tokoh-tokoh di Alkitab harus kita jadikan teladan untuk mengetahui hidup ini. “Lihat Yusuf, dulu dia pernah dijual saudara-saudaranya, difitnah dan dimasukkan ke penjara. Tapi, itu merupakan proses dari Tuhan sebelum dia diangkat menjadi Perdana Menteri di Mesir. Juga Daud, pernah dikejar-kejar Raja Saul untuk dibunuh, tapi ia berserah pada Tuhan sehingga ia selamat. Hingga akhirnya dia menjadi raja yang sukses di Israel. Jadi, jangan terlalu khawatir akan hidup ini, karena tokoh-tokoh Alkitab pun dulu menderita. Tapi, di balik penderitaan mereka itu ada berkat Tuhan. Jadi, krisis boleh datang, tapi tangan Tuhan tetap menopang anak-anakNya yang senantiasa serta mengikutiNya.” Terangnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt; Selanjutnya di Bapak ini mengutip ayat Alkitab, Lukas 6:25-27 tentang kekhawatiran. “Di situ sampai dua kali Tuhan menegaskan agar kita jangan khawatir akan hidup ini, akan apa yang kita makan atau minum. Bukankah hidup ini lebih penting dari pakaian. Dikatakan Tuhan, agar kita melihat burung-burung di langit, yang tidak menabur, namun diberi makan oleh Bapa kita. Apakah dengan khawatir, lalu ada penambahan kualitas dalam hidup kita. Jadi firman Tuhan ini mesti kita imani. Makanya, apapun keadaannya kita haurs tetap bersyukur. Yang penting sekarang, bagaimana kita bisa tenang, lalu berdoa syafaat untuk gereja, bangsa dan keluarga kita masing-masing. Dan, kita jangan percaya pada ramalan-ramalan yang menyesatkan. Pada setiap awal tahun, sering para peramal di media massa mengatakan bahwa tahun ini dan itu adalah tahun monyet, tahun ular, tahun kambing, bahkan tahun kecoa yang perlu diwaspadai. Itu jangan dipercayai, tapi ingatlah Tahun 2007 adalah tahun penuh berkat pada kita semua”, terang Bapak yang sering memberi siraman rohani dalam beberapa kegiatan kerohanian di Asrama tempat saya tinggal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt; Apa yang dibicarakan oleh kaum ibu tadi, barangkali juga menjadi pembicaraan kita saat ini. Dan, apa yang dikatakan oleh si bapak tadi memang tepat bahwa kita jangan khawatir dalam hidup ini. Tetap saja jalani hidup ini dengan ungkapan syukur, namun tetap bekerja dan mencari inovasi-inovasi untuk menunjang hidup. Untuk menghadapi Tahun 2007 yang memang penuh dengan tantangan, kita seharus belajar dari pengalaman kita menjalani tahun 1997 lalu, saat krisis moneter yang dahsyat menerpa Indonesia. Ketika krisis itu menghantam negeri ini, tentunya kita sempat khawatir, bukan mungkin ada yang stress. Hanya saja, yang patut kita renungkan sekarang adalah, kalau sampai sekarang kita masih bisa dengan sehat menjalani Tahun 2006, berarti tangan Tuhan yang tidak kelihatan itu masih menopang kita. Karenanya, tetap percaya bahwa Tuhan menyertai kita sepanjang hidup kita. Dan, kiranya di Tahun 2007 nanti kita senantiasa diberi kesehatan, kecukupan, kedamaian dan kesejahteraan oleh Tuhan, &lt;b&gt;Selamat Tahun Baru 2007&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8529594036772229025-2979426800071979532?l=syallomdailynews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/feeds/2979426800071979532/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8529594036772229025&amp;postID=2979426800071979532' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/2979426800071979532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/2979426800071979532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/2007/01/menyambut-2007.html' title='MENYAMBUT TAHUN 2007'/><author><name>SYALLOMDAILYNEWS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11374954624384231372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04405838010604872937'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8529594036772229025.post-1798937952787695181</id><published>2006-12-21T19:33:00.000-08:00</published><updated>2006-12-21T19:36:55.269-08:00</updated><title type='text'>PENGADUAN MASYARAKAT DAN UPAYA PENYELESAIAN MASALAH PERTANAHAN DI NTT DALAM PERSPEKTIF OMBUDSMAN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Oleh : Agas Andreas, S.H.,M.Hum *)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Apa itu Ombudsman?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Begitu sebut OMBUDSMAN,  lidah kita sulit mengucapkannya. Wajar saja, karena kosa kata ini baru tercatat dalam kamus administrasi ketatanegaraan kita, ketika enam tahun lalu terbit Keputusan Presiden RI Nomor 44 Tahun 2000 tentang Komisi Ombudsman Nasional. Kata Ombudsman  berasal dari  bahasa Swedia tempat asalnya Ombudsman, terdiri dari  kata ombud artinya perwakilan sah dan man artinya orang. Jadi Ombudsman artinya perwakilan sah dari seseorang.&lt;br /&gt;Pengertian Ombudsman Nasional tercantum dalam Pasal 2 Keppres RI Nomor 44 Tahun 2000 yang menyatakan:&lt;br /&gt;Ombudsman Nasional adalah lembaga pengawasan masyarakat yang berasaskan Pancasila dan bersifat mandiri, serta berwenang melakukan klarifikasi, monitoring atau pemeriksaan atas laporan masyarakat mengenai penyelenggaraan Negara khususnya pelaksanaan oleh aparatur pemerintahan termasuk lembaga peradilan terutama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan Ombudsman sebagai lembaga pengawasan masyarakat dengan jelas disebutkan dalam konsiderans dan batang tubuh Keppres RI No.44 Tahun 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konsiderans Keppres RI No.44 Tahun 2000, bagian Menimbang dinyatakan sebagai berikut:&lt;br /&gt;a.       bahwa pemberdayaan masyarakat melalui peranserta masyarakat untuk melakukan pengawasan akan lebih menjamin penyelenggaraan negara yang jujur, bersih,transparan, bebas korupsi, kolusi dan nepotisme&lt;br /&gt;b.      bahwa pemberdayaan pengawasan oleh masyarakat terhadap penyelenggaraan negara merupakan implementasi demokratisasi yang perlu dikembangkan serta diaplikasikan agar penyalahgunaan kekuasaan, wewenang ataupun jabatan oleh aparatur dapat diminimalisasi.&lt;br /&gt;c.       bahwa dalam penyelenggaraan negara khususnya penyelenggaraan pemerintahan memberikan pelayanan dan perlindungan terhadap hak-hak anggota masyarakat oleh aparatur pemerintah termasuk lembaga peradilan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menciptakan keadilan dan kesejahteraan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dalam batang tubuh Keppres No.44 tahun 2000, dinyatakan sebagai berikut:&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;Dalam rangka meningkatkan pengawasan terhadap penyelenggaraan negara serta untuk menjamin perlindungan hak-hak masyarakat dibentuk suatu komisi pengawasan masyarakat yang bersifat nasional yang bernama Komisi Ombudsman Nasional, selanjunya dalam Keputusan Presiden ini disebut Ombudsman Nasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;Ombudsman Nasional adalah lembaga pengawasan masyarakat yang berasaskan Pancasila dan bersifat mandiri, serta berwenang melakukan klarifikasi, monitoring atau pemeriksaan atas laporan masyarakat mengenai penyelenggaraan Negara khususnya pelaksanaan oleh aparatur pemerintahan termasuk lembaga peradilan terutama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan ketentuan-ketentuan Pasal-pasal tersebut di atas, tampak bahwa Ombudsman Nasional sebagai lembaga pengawasan masyarakat adalah suatu lembaga publik yang mewakili kepentingan publik untuk mengawasi sikap tindak pejabat publik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.       Lembaga publik artinya lembaga yang dibentuk oleh negara dengan hukum publik.&lt;br /&gt;b.      Kepentingan publik artinya kepentingan masyarakat, baik kepentingan individu maupun kepentingan kelompok untuk memperoleh pelayanan yang baik.&lt;br /&gt;c.       Sikap tindak pejabat publik menujuk pada perbuatan hukum dan perbuatan nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelayanan publik merupakan salah satu fungsi penyelenggaraan pemerintahan. Menurut Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) No.63 Tahun 2003,pelayanan publik adalah segala kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh penyelenggara pelayanan publik sebagai upaya pemenuhan kebutuhan penerima pelayanan maupun pelaksanaan ketentuan pelayanan. Saat ini juga sudah ada Rancangan Undang-undang tantang Pelayanan Publik. Pengertian pelayanan publik dalam RUU tersebut adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar sesuai dengan hak-hak sipil setiap warga negara dan penduduk atas suatu barang, jasa, dan atau pelayanan administrasi yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Pelayanan publik tidak hanya meliputi kebutuhan masyarakat atas suatu barang publik (jalan raya, air bersih, listrik, gedung sekolah, gedung pasar  dsb),  pelayanan perizinan, pelayanan administratif yang meliputi pelayanan dalam bentuk dokumen resmi sebagai bukti identitas dan hak seseorang (misalnya akta kelahiran, KTP, atau sertifikat tanah), tetapi juga pelayanan yang ditujukan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dan pemberdayaan masyarakat yang dijalankan oleh badan khusus yang dibentuk oleh hukum publik dan berwenang menampung dan menindaklanjuti keluhan masyarakat yang merasa dirinya dirugikan akibat dari sikap tindak pemerintah dalam pemberian pelayanan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Tujuan, Wewenang dan Tugas Pokok Ombudsman&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Tujuan Ombudsman dirumuskan dalam Pasal 3 Keppres No.44 Tahun 2000, sebagai berikut: Ombudsman Nasional bertujuan:&lt;br /&gt;Melalui peran serta masyarakat membantu menciptakan dan atau mengembangkan kondisi yang kondusif dalam melaksanakan pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme;&lt;br /&gt;Meningkatkan perlindungan hak-hak masyarakat agar memperoleh pelayanan umum, keadilan, dan kesejahteraan secara lebih baik.&lt;br /&gt;Untuk mewujutkan tujuan Ombudsman tersebut di atas, Ombudsman mempunyai wewenang dan tugas  yang dirumuskan dalam Pasal 2, Pasal 4, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11 dan Pasal 12 Keppres No.44 tahun 2000. Wewenang Ombudsman diatur dalam Pasal 2 adalah: Melakukan klarifikasi dan melakukan monitoring atau pemeriksaan atas laporan masyarakat mengenai penyelenggaraan negara khususnya pelaksanaan oleh aparatur pemerintahan termasuk lembaga peradilan terutama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tugas pokok Ombudsman  seperti dirumuskan dalam Pasal 4  adalah:&lt;br /&gt;a.       Menyebarluaskan pemahaman mengenai lembaga Ombudsman&lt;br /&gt;b.      Melakukan koordinasi dan atau kerjasama dengan Instansi Pemerintah, Perguruan Tinggi, Lembaga Swadaya Masyarakat, Para Ahli, Praktisi, Organisasi Profesi dan lain-lain&lt;br /&gt;c.       Melakukan langkah untuk menindaklanjuti laporan atau informasi mengenai terjadinya penyimpangan oleh penyelenggara negara dalam melaksanakan tugasnya maupun dalam memberikan pelayanan umum&lt;br /&gt;d.      Mempersiapkan konsep Rancangan Undang-undang tentang Ombudsman Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 8 ayat (1) Keppres No.44 Tahun 2000 mengatur tentang pelaksanaan wewenang dan tugas pokok Ombudsman sehari-hari dilakukan oleh Sub Komisi yang terdiri dari: Sub Komisi Klarifikasi, Monitoring dan Pemeriksaan, Sub Komisi Penyuluhan dan Pendidikan, Sub Komisi Pencegahan dan Sub Komisi Khusus.&lt;br /&gt;1) Pasal 9 Sub Komisi Klarifikasi, Monitoring dan Pemeriksaan mempunyai wewenang:&lt;br /&gt;Melakukan klarifikasi atau monitoring terhadap aparatur pemerintahan serta lembaga peradilan berdasarkan laporan serta informasi mengenai dugaan adanya penyimpangan dalam pelaksanaan pelayanan umum, tingkahlaku serta perbuatan yang menyimpang dari kewajiban hukumnya&lt;br /&gt;Meminta bantuan, melakukan kerjasama dan atau koordinasi dengan  aparat terkait dalam melaksanakan klarifikasi atau monitoring&lt;br /&gt;Melakukan pemeriksaan terhadap petugas atau pejabat yang dilaporkan oleh masyarakat serta pihak lain yang terkait guna memperoleh keterangan dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku&lt;br /&gt;Menyampaikan hasil klarifikasi, monitoring atau pemeriksaan disertai pendapat dan saran kepada instansi terkait dan atau aparat penegak hukum yang berwenang untuk ditindaklanjuti&lt;br /&gt;Melakukan tindakan-tindakan lain guna mengungkap terjadinya  penyimpangan yang dilakukan oleh penyelenggara negara.&lt;br /&gt;2). Pasal 10 Sub Komisi Penyuluhan dan Pendidikan mempunyai wewenang&lt;br /&gt;Melakukan penyuluhan guna mengefektifkan pengawasan oleh masyarakat&lt;br /&gt;Mengajak masyarakat melakukan kampanye dan tindakan konkrit anti korupsi, kolusi dan nepotisme&lt;br /&gt;Mendorong anggota masyarakat untuk lebih menyadari akan hak-haknya dalam memperoleh pelayanan&lt;br /&gt;Menyebarluaskan pemahaman mengenai Ombudsman Nasional&lt;br /&gt;Meningkatkan kemampuan dan ketrampilan para petugas Ombudsman Nasional&lt;br /&gt;Menyelesaikan penyusunan konsep Rancangan Undang-undang tentang Ombudsman Nasional dalam waktu paling lambat enam bulan sejak ditetapkannya Keputusan Presiden ini.&lt;br /&gt;3). Pasal 11 Sub Komisi Pencegahan mempunyai wewenang:&lt;br /&gt;Melakukan kerjasama dengan perseorangan. Lembaga Swadaya Masyarakat, Perguruan Tinggi, Instansi Pemerintah untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam penyelenggaraan negara&lt;br /&gt;Memonitor dan mengawasi tindak lanjut rekomendasi Ombudsman Nasional kepada lembaga terkait&lt;br /&gt;4). Pasal 12 Sub Komisi Khusus mempunyai wewenang:&lt;br /&gt;a.       Menyusun dan mempersiapkan laporan rutin dan insidentil&lt;br /&gt;b.      Melakukan tugas-tugas yang ditentukan secara khusus oleh Rapat Paripurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memperhatikan tugas pokok dan wewenang Ombudsman seperti yang ditetapkan Keppres No.44 Tahun 2000 tersebut, maka pada prinsipnya  tugas Ombudsman dapat dikelompokan dalam fungsi yang bersifat administratif atau yang membantu pelaksanaan fungsi pokok, dan fungsi yang bersifat tugas pokok fungsional. Tugas pokok Ombudsman sebagai lembaga pengawasan independen yang bertugas mengawasi penyelenggaraan pemberian pelayanan oleh aparat negara kepada masyarakat adalah :&lt;br /&gt;a.       Melayani laporan masyarakat atas keputusan, tindakan dan/atau perilaku penyelenggara negara yang dapat dikategorikan sebagai tindakan maladministrasi&lt;br /&gt;b.      Menerima laporan dari masyarakat yang berisi pengaduan atas keputusan, tindakan dan/atau perilaku pejabat penyelenggara yang dirasakan tidak adil, tidak patut, memperlambat, merugikan, atau bertentangan dengan kewajiban hukum instansi yang bersangkutan atau tindakan maladministrasi lainnya&lt;br /&gt;c.       Mempelajari laporan yang tercakup dalam ruang lingkup kewenangan Ombudsman Nasional.&lt;br /&gt;d.      Menindaklanjuti laporan atau informasi masyarakat dalam bentuk rekomendasi atau usul-usul mengenai penyelesaian keluhan masyarakat kepada instansi terlapor.&lt;br /&gt;e.       Memonitor dan mengawasi tindaklanjut rekomendasi Ombudsman kepada lembaga terkait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Penanganan Keluhan Masyarakat di Bidang Pertanahan oleh Ombudsman Perwakilan NTT &amp; NTB&lt;br /&gt;Penanganan keluhan masyarakat di bidang pertanahan oleh Ombudsman mengandung pengertian keseluruhan proses dan prosedur penanganan keluhan yang berawal dari penyampaian laporan sampai pada memantau tindaklanjut rekomendasi oleh instansi Terlapor. Beberap kasus di bawah ini akan menggambarkan mekanisme  penanganan keluhan masyarakat NTT di bidang pertanahan oleh Ombudsman Perwakilan NTT&amp;NTB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KASUS I:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penundaan berlarut atas permohonan perpanjangan Sertifikat Hak Guna Bangunan&lt;br /&gt;Keluhan:&lt;br /&gt;Melalui surat tertanggal 27 Desember 2004, Pelapor LC, berdomisili di Ruteng, Kabupaten Manggarai, melaporkan kepada Komisi Ombudsman Nasional, bahwa Kepala Kantor Badan Pertanahan  (Kepala BPN) Kabupaten Manggarai (Terlapor) menunda berlarut-larut atas permohonan perpanjangan Sertifikat Hak Guna Bangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya:&lt;br /&gt;Pelapor adalah pemegang sah sertifikat HGB No.01/Kelurahan Mbaumuku Kec. Langke Rembong tahun 1982 a.n LC, telah mengajukan 3 kali  permohonan perpanjangan Sertifikat HGB kepada Kepala BPN Kab. Manggarai. Atas permohonan Pelapor tersebut, Kepala Kantor BPN Kab. Maggarai melalui surat tanggal 18 Agustus 2000 Nomor : 530/790 dan No.530/791 menolak perpanjangan sertifikat HGB. Terhadap tindakan Kepala Kantor BPN Kab. Maggarai yang menolak permohonan, Pelapor mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Kupang dengan putusan tertanggal 7 Oktober 2000 No.13/G/2000/PTUN Kupang jo Putusan Mahkamah Agung RI No.196K/TUN/2001 tanggal 14 Maret 2001 yang telah mengabulakn gugatan Pelapor dengan amar putusan menyatakan bahwa surat Tergugat (Kepala Kantor BPN Kab. Maggarai) tanggal 18 Agustus 2000 Nomor : 530/790 dan No.530/791 dinyatakan tidak sah dan batal demi hukum dan memerintahkan Tergugat (Kepala BPN Kab. Maggarai) segera memproses permohonan perpanjangan HGB No.01/Kelurahan Mbaumuku sampai pada penerbitan Sertifikat HGB yang baru atas nama Penggugat. Namun Putusan Mahmakah Agung RI tersebut  sampai saat ini ( laporan dikirim ke Ombudsman) belum dilaksanakan oleh Kepala KantorBPN Kab. Maggarai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah Komisi Ombudsman&lt;br /&gt;Ketua Komisi Ombudsman Nasional melalui surat No.0043/KON-Lapor-005/I/2005-ER tanggal 25 Januari 2005 yang diujukan kepada Kepala Badan Pertanahan Nasional di Jakarta, perihal masalah tersebut dengan pendapat Kantor Badan Pertanahan Nasional telah melakukan tindakan maladministrasi berupa penundaan berlarut-larut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekomendasi Komisi Ombudsman&lt;br /&gt;Ketua Komisi Ombudsman Nasional menyampaikan rekomendasi, agar Kepala Badan Pertanahan Nasional:&lt;br /&gt;a.       Melalui jajarannya melakukan penelitian, terutama mengenai tidak ditaatinya putusan Mahkamah Agung RI terkait pada penerbitan perpanjangan Sertifikat HGB No.01/Kelurahan Mbaumuku a.n LC&lt;br /&gt;b.      Mempertimbangkan dan mengambil tindakan terhadap aparat publik yang bertanggungjawab atas putusan Mahkamah Agung RI yang tidak ditaati&lt;br /&gt;c.       Menetapkan tindakan administrasi yang diperlukan untuk meluruskan perkara ini dan mengembalikan hak Pelapor dalam keadaan hukum semula, mengingat Pelapor sudah dirugikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya&lt;br /&gt;Dengan surat No.570/24.00/19/HAT tanggal 16 Pebruari 2005, Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Propinsi NTT memberitahukan kepada Kepala Badan Pertanahan Nasional dengan tembusannya kepada Komisi Ombudsman Nasional hal-hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;a.       Telah disampaikan petunjuk teknis yang ditujukan kepada Kepala Kantor BPN Kab. Maggarai dengan surat Kepala Kantor Wilayah BPN Prop. NTT tanggal 9 Januari 2003 No.570/24.10/07/HTA perihal penerbitan Sertifikat HGB yang baru dan surat tanggal 30 Juli 2004 No.500/24.10/96/HAT perihal Perintah Pelaksanaan Putusan.&lt;br /&gt;b.      Berdasarkan laporan Kepala Kantor BPN Kab. Manggarai, bahwa pelaksanaan Putusan Pengadilan terdapat  beberapa fakta yang menghambat, yaitu:&lt;br /&gt;1.      Pelapor tidak lagi menguasai secara fisik tanah dan bangunan yang menjadi obyek HGB&lt;br /&gt;2.      Ada keberatan tertulis dari Pemda Manggarai, karena berdasarkan Putusan Mahkamah Agung RI No.3587K/PDT/2001 bahwa tanah yang disengketakan adalah hak milik Pemda&lt;br /&gt;3.      Terdapat  2 (dua) keputusan MA yang masing-masing mempunyai kekuatan hukum yang tetap pada obyek yang sama. Putusan MARI No.196 K/TUN/2001 tanggal 4 Maret 2001 yang memenangkan LC dalam sengketa TUN dengan Kepala Kantor BPN Kab. Manggarai dan putusan MARI No. 3587K/PDT/2001 tanggal 8 Oktober 2003, yang memenangkan Pemerintah Kab. Manggarai dalam perkara dengan LC&lt;br /&gt;4.      Berdasarkan fakta tersebut di atas dan dalam rangka memberikan jaminan, Kepala Kantor Wilayah BPN Prop.NTT meminta petunjuk yang bersifat penegasan dalam kaitan dengan  status hubungan hukum Pemohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KASUS 2&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Perlakuan secara diskriminatif oleh Badan Pertanahan Kota Kupang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluhan:&lt;br /&gt;Pelapor MHM selaku istri YH, berdomisili di Jln. Tangga 40 RT/RW 17/06 Kelurahan Fontein Kota Kupang,  pada tanggal 12 Juli 2005 datang di Kantor Perwakilan Komisi Ombudsman Nasional Wilayah NTT&amp;NTB, melaporkan bahwa  Badan Pertanahan Kota Kupang melakukan tindakan diskriminatif dalam pengurusan sertifikat tanah seluas 1.377m2 yang terletak di jalan Tangga 40 No.2 Kelurahan Fontein Kota Kupang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya&lt;br /&gt;Suami Pelapor sejak usia 11 tahun tinggal bersama Paulus Huru Doko, karena ada hubungan keluarga. Pada tanggal 20 Juni 1931, Pemerintah Belanda memberi zin kepada Paulus Huru Doko untuk membangun sebuah rumah di atas sebidang tanah ukuran 1.372m2 yang terletak di jalan Tangga 40 No.2 Kel. Fontein Kupang.   Pada tahun 1972 atas persetujuan secara lisan Magdalena Huru Doko   janda alm. Paulus Huru Doko dan Frids Huru Doko anak kandung alm.Paulus Huru Doko dan Magdalena huru Doko, memberikan izin kepada Suami Pelapor untuk merenovasi rumah, membayar pajak dan mendaftarkan tanah tersebut ke kepala Subdit Agraria Kabupaten Kupang untuk mendapatkan GS. Atas permohonan suami Pelapor (YH) yang bertindak atas nama Magdalena Huru Doko, Kepala Seksi Pendaftaran Kabupaten Kupang telah menerbitkan Gambar Situasi  (GS) No.2117/1972 tanggal 22 November 1977. Tanggal 20 Agustus 1979. Magdalena Huru Doko meninggal dunia. Frids Huru Doko selaku anak kandung Magdalena Huru Doko, yang berdomisili di Pare-Pare Sulawesi  menyadari bahwa karena selama ini YH yang memelihara mama, maka dengan meninggalnya mama, rumah dan tanah diserahkan kepada suami Pelapor YH untuk mengurus sertifikat. Pada saat itu juga  Frids Huru Doko menyerahkan surat-surat tanah kepada Frans Day salah seorang pegawai di Kantor Agraria Kabupaten Kupang guna diurus sertifikat. Beberapa waktu kemudian semua surat-surat tanah tersebut dikembalikan oleh Frans Day dengan alasan tidak dapat diurus sertifikat karena tanah tersebut milik pemerintah. Pada tahun 1982, Pelapor bersama suami YH mengurus kembali sertifikat tanah tersebut a.n  Frids Huru Doko, namun tetap ditolak oleh Kantor Agraria Kab. Kupang dengan alasan tanah tersebut milik pemerintah. Pada tanggal 9 September 1994, Beny Yohanes Doko, Isak H. Doko, dan Habel Doko datang ke rumah Pelapor untuk mengambil surat-surat tanah guna diajukan permohonan sertifikat hak milik atas tanah tersebut kepada Kantor Pertanahan Kota Kupang. Atas dasar permohonan Beny Yohanes Doko, Badan Pertanahan Nasional Kota Kupang telah menerbitkan sertifikat hak milik nomor 197/1995 tanggal 25 Agustus 1995 atas nama Benyamin Doko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah Komisi Ombudsman&lt;br /&gt;Kepala Perwakilan Komisi Ombudsman Nasional  wilayah NTT&amp;NTB melalui surat No.12/Kon.Lapor.0010/VII/2005-aa  tanggal 15 Juli 2005  ditujukan kepada Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional NTT di Kupang,  perihal masalah tersebut dengan pendapat Kantor Badan Pertanahan Nasional Kota Kupang telah melakukan tindakan diskriminatif dalam pelayanan pengurusan sertifikat tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekomendasi Komisi Ombudsman&lt;br /&gt;Kepala Perwakilan Komisi Ombudsman Nasional  wilayah NTT&amp;NTB, menyampaikan rekomendasi agar pemberian pelayanan kepada masyarakat tidak dilakukan dengan cara-cara yang diskriminatif dan apabila permohonan Pelapor telah memenuhi persyaratan yang telah ditentukan, dapat diproses dan peroleh pelayanan sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya&lt;br /&gt;Melalui surat No.570/24.00/115/HAT tanggal 23 Agustus 2006, Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Propinsi NTT  menjelaskan kepada Kepala Perwakilan Komisi Ombudsman Nasional Wilayah NTT&amp;NTB tentang pengurusan sertifikat tanah seluas 1.372M2 di jalan Tangga 40 No.2 Kel. Fontein Kupang a.n Beny J. Doko sebagai berikut:&lt;br /&gt;a.       Tata cara dan persyaratan serta kewenangan yang berkenaan dengan proses penerbitan sertifikat an. Beny J Doko telah memenuhi kriteria secara formal berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan, seperti surat keterangan kepemilikan tanah yang dibuat oleh Pemohon mengetahui Lurah Fontein dan surat keterangan warisan yang dikeluarkan oleh lurah Fontein dandidaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Kupang. Selama jangka waktu proses sertifikat tanah tersebut, khususnya a.n Beny J. Dokoi tidak diterimanya keberatan dari pihak lain termasuk keberatan dari YH (suami Pelapor).&lt;br /&gt;b.      Bila Pelapor menginginkan  untuk memperoleh kepastian penguasaan/pemanfaatan atas tanah yang dilaporkan, maka perlu diselesaikan secara kekeluargaan, dan apabila penyelesaian  secara kekeluargaan tidak menguntungkan Pelapor, maka dapat menggunakan jalur hukum melalui lembaga peradilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KASUS 3&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kepastian hak atas tanah seluas 98.926,50M2 disekitar Pasar Oebobo Kota kupang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluhan:&lt;br /&gt;Pelapor AA, berdomisili di Jln. Bajawa, Oebobo Kota Kupang, pada tanggal 26 Juli 2006 melaporkan kepada Komisi Ombudsman Nasional Kantor Perwakilan Wilayah NTT&amp;NTB, agar ada kepastian hak atas tanah seluas 98.926,50M2 disekitar Pasar Oebobo Kota Kupang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah&lt;br /&gt;Tahun 1983, Pemda NTT  melakukan pembebasan tanah milik Pelapor seluas 1,2 ha untuk pembangunan Pasar Oebobo dengan ganti rugi sebesar Rp.100/M2. Ada sisa tanah milik Pelapor seluas 98.926,50M2 yang belum diterbitkan sertifikat oleh Badan Pertanahan Nasional Kantor Wilayah NTT, meskipun telah diajukan. Pelapor menginginkan sisa tanah tersebut diterbitkan sertifikat oleh Badan Pertanahan Nasional Kantor Wilayah NTT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah Komisi Ombudsman&lt;br /&gt;Kepala Perwakilan Komisi Ombudsman Nasional  wilayah NTT&amp;NTB melalui surat No.27/Kon.Lapor.0020/VII/2005-dd  tanggal 18 Agustus 2005  ditujukan kepada Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional NTT di Kupang,  perihal masalah tersebut dengan meminta klarifikasi  Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional NTT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekomendasi Komisi Ombudsman&lt;br /&gt;Kepala Perwakilan Komisi Ombudsman Nasional  wilayah NTT&amp;NTB menyampaikan rekomendasi, agar Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional NTT dapat memberikan penjelasan tentang alasan-alasan penolakan penerbitan sertifikat atas sisa tanah Pelapor kepada Komisi Ombudsman Nasional  Perwakilan NTT&amp;NTB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya&lt;br /&gt;Pada Rapat Koordinasi Komisi Ombudsman Nasional  Perwakilan NTT&amp;NTB dengan Instansi Pemerintah Daerah tanggal  20 September 2006, Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Prop.NTT menyampaikan klarifikasi secara tertulis tentang keluhan dari Pelapor terhadap kepastian hak atas tanah seluas 98.926,50M2 di Kelurahan Fatululi Kecamatan Oebobo Kota Kupang, dengan penjelasan sebagai berikut:&lt;br /&gt;a.       Dalam rangka pendaftaran tanah desa lengkap sesuai PP No.10 tahun 1961, oleh Direktorat Agarraria Propinsi NTT telah dilaksanakan Pendaftaran Tanah antara lain di Desa Oebobo tahun 1972, ternyata tidak ditemukan bidang tanah Pelapor seluas 98.926,50M2, tetapi yang ada hanya sebagian telah dikuasai oleh perorangan.&lt;br /&gt;b.      Pada saat pembebasan tanah oleh Pemda Tkt.I NTT untuk pembangunan Pasar Oebobo tahun 1983, Pelapor hanya menguasasi tanah seluas 12.000 M2 yang telah diberi ganti rugi oleh Pemda Tkt.I NTT.&lt;br /&gt;c.       Terhadap masalah tanah Pelapor, Pelapor telah menggugat  Pemerintah Daerah Propinsi NTT, Kantor Wilayah BPN Prop.NTT dan PT. Putra Gemilang Karya Mandiri dan telah diputuskan oleh PN Kupang No. 65/Pdt.G/2003/PN-Kpg tanggal 26 Pebruari 2004 Jo. Putusan PT Kupang No.50/PDT/2004/PTK tanggal 30 Agustus 2005 Jo. Putusan Mahkamah Agung RI No.125 K/PDT/2005 tanggal 26 April 2006 yang pada intinya menolak gugatan dari Pelapor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pelapor, Ombudsman, dan Terlapor&lt;br /&gt;Mencermati  3 (tiga) kasus yang ditindaklanjuti seperti disajikan  sebelumnya, sebenarnya antara Pelapor- Ombudsman- Terlapor terdapat hubungan saling mengawasi dan melindungi. Hubungan saling mengawasi  antara Pelapor- Ombudsman- Terlapor tercermin dalam langkah kerja penanganan keluhan masyarakat oleh Ombudsman.&lt;br /&gt;Setelah menerima laporan masyarakat, Ombudsman melakukan tahapan penanganan mulai dari menerima laporan, mendaftarkan laporan, menganlisis, bahkan melakukan investigasi laporan, kemudian Ombudsman mengirimkan rekomendasi kepada Terlapor dengan tembusan kepada Pelapor. Karena ada tembusan kepada Pelapor, maka secara pasti Pelapor akan selalu ikut memantau perkembanganan penangangan laporannya oleh Ombudsman dan memantau perkembangan tindak lanjut rekomendasi oleh instansi Terlapor. Sementara itu, Terlapor terpacu untuk menindaklanjuti rekomendasi yang diterimanya, karena Ombudsman selalu memantau kesungguhan Pemerintah dalam menindaklanjuti rekomendasi Ombudsman. Terlapor selalu diawasi oleh Pelapor dan Ombudsman, sehingga melalu mekanisme pengawasan seperti itu, mencegah terjadinya ketidakadilan dalam pemberian pelayanan publik terhadap perorangan.  Meskipun rekomendasi Ombudsman tidak mengikat secara hukum, tetapi jika diikuti atau ditindaklanjuti justru akan memberi perlindungan hukum bagi diri dan instansi Terlapor. Bagi dirinya, dengan mengikuti rekomendasi Ombudsman dirinya akan terbebas dari fitnah dan tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar. Intinya, yang bersangkutan menyadari, bahwa sebenarnya Ombudsman merupakan pelindungnya dari tuduhan yang tidak benar. Bagi intitusinya, akan merasakan bahwa berkat selalu mengikuti rekomendasi Ombudsman, kinerja institusinya akan semakin baik dan terpercaya. Bagi Pelapor, dengan ditindaklanjuti keluhannya oleh Terlapor, ia merasa puas karena telah mendapatkan perhatian selayaknya sebagai manusia yang membutuhkan penghargaan. Tentu saja, kepuasan Pelapor tersebut melahirkan citra yang positip bagi BPN sebagai pelayan publik yang baik. Jika ini terjadi, maka kehadiran Ombudsman sangat membantu mendorong aparat BPN meningkatkan mutu pelayanan agar masyarakat memperoleh keadilan, rasa aman, danm kesejahteraan yang makin baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;*) Dosen Fakultas Hukum Undana &amp; Kepala Perwakilan Komisi Ombudsman Nasional Wilayah Nusa Tenggara Timur &amp;amp; Nusa Tenggara Barat, Jalan Eltari 2 No.105 Kupang&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8529594036772229025-1798937952787695181?l=syallomdailynews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/feeds/1798937952787695181/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8529594036772229025&amp;postID=1798937952787695181' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/1798937952787695181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/1798937952787695181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/2006/12/pengaduan-masyarakat-dan-upaya.html' title='PENGADUAN MASYARAKAT DAN UPAYA PENYELESAIAN MASALAH PERTANAHAN DI NTT DALAM PERSPEKTIF OMBUDSMAN'/><author><name>SYALLOMDAILYNEWS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11374954624384231372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04405838010604872937'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8529594036772229025.post-7675335527214833820</id><published>2006-12-21T08:12:00.000-08:00</published><updated>2006-12-21T08:20:06.321-08:00</updated><title type='text'>Simbol Babak Baru Kepengurusan PDI Perjuangan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3yPsZSxNJsw/RYqzyt4vKVI/AAAAAAAAAA0/JT7PHgieUz0/s1600-h/alex.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3yPsZSxNJsw/RYqzyt4vKVI/AAAAAAAAAA0/JT7PHgieUz0/s320/alex.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5011015219295496530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ia merintis karir politik dari bawah. Pada masa puncak tekanan kepada PDI (Partai Demokrasi &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;) pimpinan Megawati ia menjabat Sekretaris Jenderal. Kemudian saat PDI berubah nama menjadi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) ia pun dipertahankan sebagai Sekretaris Jenderal DPP mendampingi Megawati. Kemudian, partai ini berhasil menjadi pemenang Pemilu 1999 yang mengantarkan Megawati ke puncak kekuasaan negeri ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Namun pria kelahiran &lt;st1:place st="on"&gt;Ambon&lt;/st1:place&gt;, 01 Oktober 1948 ini tidak ikut terangkat dalam puncak kekuasaan itu. Malah ia seperti disingkirkan dari pusat pengambilan keputusan partai. Padahal, sebagai orang kedua di partai saat mendapat tekanan dahsyat dari pemerintah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Orde Baru&lt;/st1:city&gt;, &lt;st1:state st="on"&gt;ia&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; telah mengabdikan diri demi kejayaan partai. Sehingga ketersingkirannya malah dinilai berbagai pihak menjadi simbol babak baru kepengurusan PDI-P.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sebelum menjabat Sekjen DPP PDI ia menjabat Ketua Umum DPP GAMKI (1989). Posisi Ketua Umum DPP GAMKI inilah yang mengantarkannya menjabat Sekjen DPP PDI itu. Karena sejak PDI berdiri sebagai hasil fusi dari beberapa partai sudah menjadi kesepakatan bahwa jabatan Sekretaris Jenderal dipercayakan kepada anggota dari unsur Kristen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tapi setelah PDI-P tampil sebagai pemenang Pemilu kesepakatan ini telah dilupakan. Dalam Kongres PDI-P di Semarang tahun 2000, jabatan Sekjen tidak lagi dipercayakan kepada unsur nonmuslim. Untuk pertama kali PDI (PDI-P) tidak lagi memperhatikan keterwakilan unsur-unsur keanekaragaman kebangsaan dalam kepengurusannya. Kini, tampaknya oleh desakan psikologis eksterrnal partai, PDI-P tidak lagi terikat kepada unsur-unsur yang melahirkan dan membesarkannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sehingga ketersingkiran Alex sebagai Sekjen PDI-P sekaligus diartikan berbagai pihak sebagai simbol pengingkaran PDI-P pada komitmen kebangsaan yang bhineka tunggal ika, dalam menempatkan berbagai unsur dalam kepengurusan partai. Partai ini dianggap berbagai kalangan berubah menjadi tak ubahnya seperti partai lain yang belum ikhlas mengaktualisasikan kebhinnekatunggalikaan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Alex digantikan Ir Sutjipto. Ia dengan legowo menerima keputusan kongres. Dalam pemerintahan Megawati, ia pun tidak diberi kercayaan menjabat posisi penting. Namun ia tetap tidak mau berteriak seperti kader PDI-P lainnya yang merasa tersingkir setelah Megawati berada di puncak kekuasaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Alex sudah aktif berorganisasi sejak kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris FKIP Unpatti, &lt;st1:place st="on"&gt;Ambon&lt;/st1:place&gt; (1968-1972). Ia aktif sebagai Anggota GMKI Ambon (1969). Kemudian ia masuk Parkindo di Maluku (1971). Lalu menjabat Wakil Ketua BPC GMKI Ambon (1974-1976 ) dan Sekretaris Umum Dewan Mahasiswa Unpatti Ambon (1974-1978). Saat itu ia juga menjabat Sekretaris PP GMKI Regional Maluku dan Irian Jaya, &lt;st1:place st="on"&gt;Ambon&lt;/st1:place&gt; (1976-1978) dan Pengurus KNPI Ambon (1977-1978).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kemudian ia hijrah ke Jakarta menjabat Sekretaris Bidang Pendidikan Kader PP GMKI (1978-1980), Ketua Bidang Pembinaan Anggota PP GMKI (1980-1982), Kepala Bidang External PP GMKI (1982-1984) hingga menjabat Ketua Umum PP GMKI (1984). Ia pun terpilih menjabat Ketua DPP KNPI (1984-1987). Selepas itu, ia menjabat Ketua DPP GAMKI (1987-1989) dan Ketua Umum DPP GAMKI (1989).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Posisi Ketua Umum DPP GAMKI itu mengantarkannya menjabat Sekretaris Jenderal DPP PDI (1993-1998) dan Sekretaris Jenderal DPP PDIP (1998-2000).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Suami dari Maureen Maspaitella Litaay ini sebelum menjadi Anggota DPR dari Fraksi PDI-P, sempat berpofesi sebagai guru dan dosen. Ia pernah mengajar di SMA Kristen &lt;st1:place st="on"&gt;Ambon&lt;/st1:place&gt;, (1970-1975) dan menjabat Asisten Direktur Yayasan Pendidikan Kader Bina Dharma, Salatiga (1984-1987) serta&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Asisten Direktur Johanes Leimena Jakarta (1988-1993)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ayahanda dari Natasya Alexandra Litaay (13-10-1987), Adventya Zamyra Litaay (15-12-1988) dan Thomas Mandela Demokrasio Litaay (10-05-1994) ini menguasai (aktif) bahasa Inggris dan Belanda.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Putera dari pasangan Mezaac J. Litaay dan Marthina Hobertina Toisuta ini mengecap pendidikan di SMP YPK, Sorong, Irian Jaya (1962-1965), SMAN I Ambon (1964-1967) dan Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris FKIP Unpatti Ambon (1968-1972)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di DPR/MPR ia aktif sebagai Anggota BP MPR RI, Anggota BKSAP DPR RI, Penasehat Fraksi PDIP DPR RI, Wakil Ketua Fraksi PDIP MPR RI, Anggota Komisi II (Hukum dan Dalam Negeri) DPR RI dan Anggota Sub Komisi Otonomi Daerah DPR RI. (rudy riwukaho - Sumber : Tokoh &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8529594036772229025-7675335527214833820?l=syallomdailynews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/feeds/7675335527214833820/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8529594036772229025&amp;postID=7675335527214833820' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/7675335527214833820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/7675335527214833820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/2006/12/simbol-babak-baru-kepengurusan-pdi.html' title='Simbol Babak Baru Kepengurusan PDI Perjuangan'/><author><name>SYALLOMDAILYNEWS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11374954624384231372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04405838010604872937'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3yPsZSxNJsw/RYqzyt4vKVI/AAAAAAAAAA0/JT7PHgieUz0/s72-c/alex.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8529594036772229025.post-1154454852764857340</id><published>2006-12-21T06:43:00.000-08:00</published><updated>2006-12-21T06:51:30.929-08:00</updated><title type='text'>Biaya Rumah Sakit Boleh Mahal, Asal Orang Miskin Gratis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3yPsZSxNJsw/RYqfLt4vKUI/AAAAAAAAAAk/RuF-TadIY0k/s1600-h/Ical.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3yPsZSxNJsw/RYqfLt4vKUI/AAAAAAAAAAk/RuF-TadIY0k/s320/Ical.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5010992559048042818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Menteri Koordinator (Menko) Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Aburizal Bakrie, mengatakan, biaya rumah sakit boleh mahal asalkan warga miskin bisa mendapat pelayanan secara gratis. “Saya sudah berkunjung ke rumah sakit itu dan ketika saya tanya bagaimana nasibnya warga miskin, manajemen rumah sakit mengatakan orang miskin mendapat pelayanan gratis. Berarti tidak masalah,” kata Aburizal, di Kupang, Rabu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Terhitung 1 Januari 2007, manajemen RSUD Prof. W.Z. Johannes Kupang, satu-satunya rumah sakit milik pemerintah di Kota Kupang, ibukota Provinsi NTT akan memberlakukan tarif baru sesuai Peraturan Daerah (Perda) Nomor: 4 tahun 2006 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tarif baru pelayanan kesehatan rawat jalan di RSUD Kupang sesuai Perda 4/2006 sebesar Rp17.500/pasien. Terjadi peningkatan Rp12.500 dari tarif lama Rp5.000/pasien sesuai Perda Nomor 7 Tahun 2000. Tarif baru itu lebih mahal dari dua rumah sakit swasta di Kupang yakni Rumah Sakit Tentara (RST) dan Rumah Sakit Bhayangkara (RSB) hanya Rp15.000/pasien. Bahkan rumah Sakit Tabanan Bali hanya Rp8.500 dan Rumah Sakit Kepanjen Malang hanya Rp10.500/pasien rawat jalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Demikian pula, biaya rawat inap yang juga lebih mahal dari RSB Kupang. Perawatan Klas III di RSUD Prof W.Z. Johannes Kupang berkisar antara Rp50.000 hingga Rp65.000, sementara RSB Kupang hanya Rp35.000 dan RS Tabanan hanya Rp27.000.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Biaya rawat inap Klas II dan I pun jauh lebih mahal dari rumah sakit swasta di Kupang dan dua rumah sakit diluar NTT sebagai pembanding. Biaya rawat inap Klas II di RSUD Kupang sebesar Rp110.000, RSB Rp55.000 dan RST Rp102.000. RS Tabanan Rp36.000 dan RS Kepanjen Rp70.000. Klas I di RSUD Kupang sebesar Rp190.000, di RSB hanya Rp90.000 dan RST Rp122.500, RS Tabanan Rp54.000 dan RS Kepanjen Rp115.000.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Biaya rawat inap Klas Paviliun yang mencapai Rp345.000 di RSUD Kupang, sementara di RSB hanya Rp175.000, RST Rp170.000, RS Tabanan Rp100.000 dan RS Kepanjen Rp260.000.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aburizal mengatakan, Departemen Kesehatan sudah mengingatkan manajemen rumah sakit di berbagai daerah di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; agar tidak membebani warga miskin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Kalau manajemen RSUD Prof. W.Z. Johannes menaikan tarif dan dianggap mahal tidak menjadi persoalan sepajang pasien dari keluarga miskin tidak pungut biaya. Saya sudah tegaskan hal ini saat berdiskusi dengan direktur rumah sakit itu,” ujarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ia mengatakan, warga miskin yang membutuhkan pelayanan kesehatan di rumah sakit pemerintah dapat menggunakan kartu askes miskin (askeskin) agar tidak dibebankan biaya perawatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Karena itu, pemerintah daerah berkewajiban memberikan kartu askeskin kepada warga miskin agar dimanfaatkan sesuai peruntukkannya,” ujarnya. (ant/rrk)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8529594036772229025-1154454852764857340?l=syallomdailynews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/feeds/1154454852764857340/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8529594036772229025&amp;postID=1154454852764857340' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/1154454852764857340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/1154454852764857340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/2006/12/biaya-rumah-sakit-boleh-mahal-asal.html' title='Biaya Rumah Sakit Boleh Mahal, Asal Orang Miskin Gratis'/><author><name>SYALLOMDAILYNEWS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11374954624384231372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04405838010604872937'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3yPsZSxNJsw/RYqfLt4vKUI/AAAAAAAAAAk/RuF-TadIY0k/s72-c/Ical.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8529594036772229025.post-6562183062323281516</id><published>2006-12-21T06:34:00.000-08:00</published><updated>2006-12-21T06:35:42.697-08:00</updated><title type='text'>Kenaikan Gaji Dewan, Model Korupsi Yang Sangat ‘Bugil’</title><content type='html'>&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/o:p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Pengamat politik DR Chris Boro Tokan SH.MH berpendapat, kenaikan gaji wakil rakyat dan para pimpinannya, baik di pusat maupun di daerah-daerah mencerminkan model korupsi secara “bugil” melalui pengaturan aspek kepastian hukum. Pengaturan aspek kepastian hukum yang dilakukan oleh pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada legislatif ini untuk tetap “mengamankan penyuburan model korupsi terbungkus” yang selama ini tersentral melalui perilaku oknum-oknum eksekutif dengan kroni-kroninya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Era sekarang menandakan bahwa korupsi dilakukan terbuka melalui pengaturan aspek kepastian hukum untuk para anggota legislatif dan pimpinannya,” kata Boro Tokan yang juga Ketua Biro Cendekiawan, Litbang dan Lingkungan Hidup DPD Partai Golkar Nusa Tenggara Timur (NTT) itu di Kupang, Rabu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Doktor ilmu hukum lulusan Universitas Indonesia 2003 itu mengatakan, para wakil rakyat di daerah-daerah sudah tidak malu lagi mengatur kenaikan penghasilannya melalui perda, tanpa ada tolok ukur yang jelas tentang kinerja dan keberhasilan yang telah dibuat bagi rakyat di daerahnya masing-masing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Sangat ironis memang jika kita mencermati situasi dan kondisi yang tengah dihadapi bangsa dan negara saat ini seperti meningkatnya angka kemiskinan, gaji buruh yang rendah, pengangguran, bencana alam, rawan pangan, gizi buruk dan lain-lain,” katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Namun, tegas mantan Sekjen PP Perhimpunan Mahasiswa Katolik RI periode 1985-1988 itu, elit pemerintah malah tidak malu-malu melakukan korupsi secara telanjang melalui dalil kepastian hukum, aspek legalitas yang mengabaikan aspek kemanfaatan atau kegunaan aturan hukum itu bagi rakyat yang hidup berkekurangan (miskin), menganggur, rawan pangan dan gizi buruk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dengan demikian, kata dia, pemerintahan SBY dan pemerintahan di daerah, sebenarnya secara sadar telah menjalankan suatu model pemerintahan yang “elite oriented” yakni lebih melayani kaum elit dan lingkarannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Hal itu menjadi suatu ciri pemerintahan kapitalis yakni melayani kebutuhan kaum elit pemerintahan dan kaum kapitalis (pemodal) yang melingkarinya, tambah mantan anggota DPRD NTT periode 1999-2004 itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Pemerintah tidak sesungguhnya melayani rakyat, kaum miskin yang menderita, menganggur, karena pelayanan yang diberikan lebih bernuansa supaya rakyat tidak kecewa dan memberontak. Jika rakyat memberontak maka bagi elit pemerintahan tentu akan mengganggu kepentingan dan kenyamanan mereka yang selama ini sudah terpelihara melalui jalur korupsi,” kata Boro Tokan. (ant/rrk)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8529594036772229025-6562183062323281516?l=syallomdailynews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/feeds/6562183062323281516/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8529594036772229025&amp;postID=6562183062323281516' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/6562183062323281516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/6562183062323281516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/2006/12/kenaikan-gaji-dewan-model-korupsi-yang.html' title='Kenaikan Gaji Dewan, Model Korupsi Yang Sangat ‘Bugil’'/><author><name>SYALLOMDAILYNEWS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11374954624384231372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04405838010604872937'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8529594036772229025.post-9221346924566315795</id><published>2006-12-21T06:23:00.000-08:00</published><updated>2006-12-21T06:31:40.268-08:00</updated><title type='text'>Danrem : Tak Ada Rencana Pembangunan Korem di Flores</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Komandan Korem 161/Wirasakti Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kol Inf Arief Rachman menegaskan, institusi TNI-AD tidak memiliki rencana untuk membangun markas Komando Resimen (Korem) di Ende, Pulau Flores, seperti rumor yang berkembang selama ini di masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Kami tidak memiliki rencana untuk membangun Korem di Ende dan wilayah lainnya di NTT. Yang ada hanya pemekaran kompi Batalyon Infanteri (Yonif) 743/PSY yang berkedudukan di Ende saat ini,” kata Danrem Arief Rachman dari &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, Rabu, ketika dihubungi melalui telepon selulernya menyangkut isu pembangun Korem tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Isu pembangunan Korem tersebut mendapat reaksi beragam dari masyarakat di Flores, termasuk juga anggota DPR-RI asal &lt;st1:place st="on"&gt;Flores&lt;/st1:place&gt; dari PDI Perjuangan, Cypri Aoer yang meminta seluruh komponen masyarakat NTT untuk menolak pembangunan Korem di Flores.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam pandangan mantan Pemred Harian Suara Pembaruan itu, NTT bukan masuk dalam kategori daerah genting sehingga tidak membutuhkan Korem.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Danrem Arief Rachman menyatakan penyesalannya dengan rumor yang berkembang mengenai pembangunan Korem tersebut, karena terkesan mengada-ada untuk mencari popularitas murahan demi kepentingan politik tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Kami tidak memiliki rencana apa pun untuk pembangunan Korem di Flores dan wilayah lainnya di NTT. Yang ada hanya pemekaran kompi Yonif 743/PSY karena ada hibah tanah dari masyarakat setempat di Desa Kuru, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende,” katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ia mengatakan, rencana pemekaran kompi tersebut karena ada hibah tanah dari masyarakat untuk TNI-AD. Jika tidak ada hibah tanah dari masyarakat, rencana pemekaran kompi mungkin juga belum terwujud, tambahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ketika Timor Timur lepas dari &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; pada 1999, Kodam IX/Udayana sempat mewacanakan pembangunan Korem di Flores menyusul di likuidasinya Korem 164/Wiradharma Dili.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pangdam IX/Udayana (waktu itu), Mayjen TNI Adam Damiri sempat melakukan “hearing” dengan DPRD NTT di Kupang mengenai rencana TNI-AD membangun Korem di Flores pada saat itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Namun, DPRD NTT pada saat itu memberikan reaksi negatif terhadap wacana yang dilontarkan Pangdam IX/Udayana tersebut, karena masyarakat &lt;st1:place st="on"&gt;Flores&lt;/st1:place&gt; juga menolaknya dengan tegas sehubungan dengan citra yang kurang menyenangkan terhadap eksistensi TNI di Timtim dahulu. (RRK)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8529594036772229025-9221346924566315795?l=syallomdailynews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/feeds/9221346924566315795/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8529594036772229025&amp;postID=9221346924566315795' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/9221346924566315795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/9221346924566315795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/2006/12/danrem-tak-ada-rencana-pembangunan.html' title='Danrem : Tak Ada Rencana Pembangunan Korem di Flores'/><author><name>SYALLOMDAILYNEWS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11374954624384231372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04405838010604872937'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8529594036772229025.post-3815305008475015710</id><published>2006-12-03T05:51:00.000-08:00</published><updated>2006-12-03T06:09:41.799-08:00</updated><title type='text'>ROH GMKI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3yPsZSxNJsw/RXLXioDHm9I/AAAAAAAAAAM/5Tr4EHu51_4/s1600-h/57%27Kelompok+Kerja+Penyelidikan+Alkitab,+Makasar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 376px; height: 260px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3yPsZSxNJsw/RXLXioDHm9I/AAAAAAAAAAM/5Tr4EHu51_4/s200/57%27Kelompok+Kerja+Penyelidikan+Alkitab,+Makasar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5004299125828066258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kelompok Studi Penyelidikan Alkitab (PA) GMKI Cabang Makasar&lt;br /&gt;Tahun 1957&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PA adalah Roh GMKI&lt;/span&gt; dan nampaknya GMKI ke-kini-an sudah mulai kehilangan rohnya, memang ada beberapa GMKI Cabang yang masih setia pada rohnya, tetapi ada beberapa GMKI cabang yang nampaknya sudah mulai luntur, contohnya adalah GMKI Cabang Salatiga yang saat ini seharusnya menjadi GMKI yang kuat karena di topang oleh keberadaan&lt;br /&gt;Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dan Yayasan Bina Darma&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masihkah Ada PA di GMKI !!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8529594036772229025-3815305008475015710?l=syallomdailynews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/feeds/3815305008475015710/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8529594036772229025&amp;postID=3815305008475015710' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/3815305008475015710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/3815305008475015710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/2006/12/roh-gmki.html' title='ROH GMKI'/><author><name>SYALLOMDAILYNEWS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11374954624384231372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04405838010604872937'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3yPsZSxNJsw/RXLXioDHm9I/AAAAAAAAAAM/5Tr4EHu51_4/s72-c/57%27Kelompok+Kerja+Penyelidikan+Alkitab,+Makasar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8529594036772229025.post-4137201213204384956</id><published>2006-11-27T06:59:00.000-08:00</published><updated>2006-11-27T07:04:05.483-08:00</updated><title type='text'>Rektor Pemimpin Bukan Pengajar</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Prof.Dr. Usman Pelly, M.A **)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;            Akhir-akhir ini di Sumatera Utara terjadi banyak pergantian pimpinan universitas yaitu pemilihan rektor baru. Seperti biasa setiap pergantian pimpinan (suksesi), situasi dan kondisi masyarakat kampus di universitas tersebut menghangat, karena mereka terlibat dengan pembicaraan dan pemikiran siapa tokoh yang paling cocok dan pantas untuk diajukan dan dipilih sebagai rektor baru. Hal itu wajar-wajar saja.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;            Kedudukan seorang Rektor, apalagi rektor suatu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sangat prestis (pestigous), karena tokoh rektor di Indonesia sangat dihormati masyarakat di dalam dan di luar kampus. Oleh karena itu, pengangkatan seorang rektor PTN setelah diajukan oleh Senat Universitas, dipertimbangkan oleh Mendiknas dan kemudian diangkat langsung oleh Presiden. Kedudukan rektor PTN secara struktural adalah eselon IA (sama dengan kedudukan seorang direktur jendral). Malah di beberapa negara, seperti di Mesir, kedudukan Rektor Al-Azhar umpamanya setingkat dengan kedudukan seorang Perdana Menteri, sehingga apabila beliau ke luar negeri negara yang dikunjunginya harus membentang karpet merah menyambutnya, sesuai dengan tata protokoler kunjungan seorang perdana menteri.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;            Apa tugas utama seorang rektor? Seorang rektor adalah seorang pemimpin, seorang manager atau seorang administrator. Berbeda dengan rektor, seorang staf pengajar (academic staff) atau biasanya juga disebut dosen, dia adalah seorang akademisi, yang bertanggung jawab terhadap mutu pendidikan di perguruan tinggi. Top carrier (karir tertinggi) seorang dosen di perguruan tinggi adalah guru besar (profesor), bukan rektor. Seperti juga top carrier seorang PNS di Pemda adalah Sekretaris Daerah (Sekda) bukan bupati atau gubernur. Karena bupati dan gubernur adalah jabatan politis, siapa saja mungkin dapat jadi bupati atau gubernur asal dia memiliki dukungan politis, apakah dia berasal dan seorang preman, pebisnis, anggota TNI/Polri atau tokoh partai politik, tetapi tidak demikian dengan seorang Sekda, dia harus seorang PNS karir. Seorang rektor adalah kepala administratur atau top manager sebuah perguruan tinggi, walaupun dia adalah penanggung jawab utama sebuah universitas, tetapi di bidang akademik, rektor harus menghormati otonomi akademik.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;            Rektor tidak dapat mencampuri secara langsung urusan akademik, karena urusan itu adalah ranah (domain) para guru besar bersama Ketua Jurusan/Prodi atau Kepala Laboratorium. Karena itu, Ketua Jurusan (Head of Department) atau Kepala Laboratorium, seharusnya seorang profesor. Rektor berkewajiban menyediakan atau memfasilitasi semua keperluan atau kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan di perguruan tinggi itu. Kenaikan pangkat atau jabatan seorang dosen tidak ditentukan oleh rektor, tetapi oleh kinerja dosen itu sendiri dan evaluasi teman-sejawat serta profesor yang bergerak dalam ilmu itu. Rektor dan perangkatnya hanya memfasilitasi keperluan, kebutuhan dan memproses kenaikan pangkat tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;            Penjaringan seorang calon rektor di luar negeri, terbuka (seperti sistem lelang), siapa saja dapat mencalonkan diri, tidak terbatas pada staf akademik yang ada di perguruan tinggi ybs. Sistem ini telah dijalankan pula oleh universitas-universitas BHMN, seperti UI, ITB dan Gadjah Mada. Mereka mencari seorang pemimpin bukan seorang staf pengajar (dosen), mereka mencari seorang manager atau administrator yang handal bukan tenaga edukatif. Oleh karena itu Yasser Arafat misalnya (sebenarnya dia seorang ingineer lulusan PT terkenal), sebelum dia dipilih sebagai Ketua PLO atau Presiden Palestina, pernah menjadi calon kuat rektor sebuah universitas terkemuka di Inggris. Di Indonesia, tradisi menjaringan calon rektor seperti ini belum ditradisikan oleh sebahagian besar universitas, termasuk Unimed (Universitas Negeri Medan).&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;            Di Unimed penjaringan calon rektor masih terbatas dari lingkungan staf pengajar. Oleh karena itu banyak orang tidak melihat perbedaan tugas seorang pemimpin (administrator) dengan seorang staf pengajar (akademisi). Malah dianggap siapa saja yang sudah profesor sudah kualified jadi rektor. Banyak yang merasa di Unimed seperti juga di PTN lainnya bahwa top karir seorang dosen itu bukan profesor tetapi rektor. Padahal jabatan guru besar itu dari segi akademik sangat penting dan prestis, sama prestisnya dengan seorang rektor. Tetapi karena penghasilan dan fasilitas yang diberikan kepada rektor dianggap sangat berlimpah (hal ini sangat disesalkan) dibandingkan dengan seorang profesor, maka orang tetap mengejar jabatan rektor, walaupun jabatan itu akan menguras kapasitasnya sebagai seorang akademisi.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;            Banyak profesor yang tidak punya penelitian yang cemerlang dan juga tidak punya publikasi ilmiah, baik pada tingkat nasional atau internasional, sehingga dia hanya dikenal di seputar kampusnya saja. Kalau diundang dalam pertemuan internasional, banyak yang menghindar untuk datang, karena banyak yang "sakit gigi" (tidak lancar berkomunikasi dalam bahasa asing). Sesudah pensiun dia dilupakan orang, karena waktunya telah terkuras selama memegang jabatan guru besar itu dalam jabatan-jabatan struktural seperti dekan, PR atau, rektor dan lain-lain. Karena itu pula banyak profesor di luar negeri, yang menolak apabila ditawari jabatan struktural, apakah dekan atau rektor, karena jabatan-jabatan itu tidak sejalan dengan karirnya sebagai seorang profesor (akademikus).&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;            Bulan ini di Unimed akan di lakukan pemilihan seorang rektor, karena jabatan rektor priode yang dipegang oleh Prof. Djanius Djamin akan segera berakhir. Kami yakin anggota Senat Unimed mengerti dan memahami benar bahwa mereka akan memilih seorang pemimpin seorang, administratur universitas, bukan seorang staf pengajar atau dosen. Dosen yang kualified itu adalah seorang yang telah menyandang jabatan dan gelar Prof, Doktor, tetapi kualifikasi utama seorang pemimpin (Kepala Administratur Perguruan Tinggi) itu bukan Prof, Doktor itu, tetapi adalah seorang yang mampu mengayomi masyarakat kampus, menjalankan, memfasilitasi dan memutar roda perguruan tinggi sesuai dengan visi dan misinya. Kualifikasi ini dapat dilihat dari track-rekord (pengalaman) seseorang yang akan diajukan sebagai calon rektor.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;            Kalau kualifikasi seorang calon rektor yang akan menjadi pemimpin itu, kebetulan bergelar profesor, doktor, maka itu adalah calon yang paling ideal, karena dia memiliki sekaligus dua kapasitas (kepemimpinan dan "academic standing"). Akan tetapi kalau dia belum profesor, doktor pun tidak atau bukan masalah, karena tujuan utama dalam pemilihan rektor ini adalah memilih seorang pemimpin, seorang leader atau seorang kepala administratur perguruan tinggi bukan seorang tenaga edukatif (dosen).&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-weight: bold; font-style: italic;" align="justify"&gt;*) Penulis adalah Tokoh Pendidikan Nasional&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-weight: bold; font-style: italic;" align="justify"&gt;**) Dikutip dari : WASPADA Online Eds 6 Nop 2006&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8529594036772229025-4137201213204384956?l=syallomdailynews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/feeds/4137201213204384956/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8529594036772229025&amp;postID=4137201213204384956' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/4137201213204384956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/4137201213204384956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/2006/11/rektor-pemimpin-bukan-pengajar.html' title='Rektor Pemimpin Bukan Pengajar'/><author><name>SYALLOMDAILYNEWS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11374954624384231372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04405838010604872937'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8529594036772229025.post-8342327993390017018</id><published>2006-11-27T06:47:00.000-08:00</published><updated>2006-11-27T06:59:05.151-08:00</updated><title type='text'>BANGUNLAH EMBUNG UNTUK KEMARAU PANJANG</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Viktor Siagian *)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Musim kemarau tahun ini memang luar biasa dan sudah mendekati kondisi El Nino tahun 1997. Seharusnya pada Oktober, hujan sudah mulai turun, tapi ternyata hanya di beberapa daerah saja. Dampak dari kemarau panjang ini tentu merugikan secara ekonomi, banyak petani yang gagal panen, baik tanaman padi sawah, palawija, dan tanaman perkebunan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Sebanyak 50 000 ha sawah diperkirakan kekeringan (drought) dan puso dengan kerugian Rp 1 triliun. Musim tanam Oktober Maret (musim penghujan) akan mundur ke November atau Desember.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Walaupun sebenarnya hal ini sudah berlangsung sejak tahun 1997 akibat pergeseran iklim, petani lebih banyak menanam padi pada November/Desember. Jika dulu bulan yang berakhiran ber pasti konotasinya akan banyak turun hujan, saat ini belum tentu demikian.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Dampak ini juga berpengaruh besar terhadap produksi peternakan kita, terutama sapi yang memerlukan rumput dan air untuk kehidupannya, sapi menjadi kurus, berat karkas menjadi berkurang. Demikian juga usaha kolam ikan air tawar, banyak ikan yang mati karena kolam yang mengering. Banyak penduduk di pedesaan dan kota yang saat ini kesulitan mendapatkan air.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Kekeringan ini juga menyebabkan rentannya terhadap kebakaran lahan dan hutan, cukup dengan membuang puntung rokok lahan semak, kebun karet dan hutan akan terbakar. Apalagi di daerah lahan gambut yang sudah direklamasi sangat rawan terbakar karena kemampuan memegang airnya sangat rendah.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Dampak lainnya dari kemarau panjang ini adalah debit air Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di seluruh Indonesia menurun drastis sehingga kesulitan untuk memutar turbin. Hampir di seluruh Indonesia terjadi pergiliran pemadaman listrik.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0.2in;" align="justify"&gt;Tentunya semua ini akan merugikan negara secara ekonomi. Banyak pabrik-pabrik yang tidak beroperasi, kantor-kantor pemerintah/swasta yang lumpuh, apalagi bagi pelajar/mahasiswa hal ini tentunya akan mengganggu konsentrasi belajar.&lt;/p&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bangunlah Embung&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Tapi di atas semua ini, kita masih memiliki harapan untuk mengatasi kemarau panjang ini. Kemarau panjang adalah gejala alam yang sangat sulit kita hindari. Kita hanya dapat meminimalkan dampak kemarau melalui teknologi dan keunggulan sumber daya alam yang kita miliki.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Daerah-daerah yang memiliki danau kecil seperti lebung (daerah cekungan di daerah rawa), situ dan embung (semacam waduk kecil) umumnya masih lebih bisa bernafas dibanding yang tidak memiliki. Minimal penduduk bisa memperoleh akses untuk minum, mandi, cuci, dan kakus (MCK).&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Situ-situ yang banyak dibangun oleh Belanda di sekitar Jabotabek maupun Jabar sebenarnya berguna untuk MCK dan pertanian pada musim kemarau. Pada musim hujan situ ini juga berguna sebagai pencegah banjir. Hanya sekarang situ-situ itu sudah mulai banyak yang berubah fungsi.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Embung ini dapat berukuran 0,5 ha dan dasarnya dapat dilapisi plastik tebal agar air tidak terhisap (terinfiltrasi) oleh tanah dan biayanya juga relatif murah, bisa dibangun dengan cara gotong royong. Air hujan ini dapat ditampung dalam satu wadah seperti situ, embung, untuk selanjutnya dimanfaatkan pada musim kemarau.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Jadi air tersebut tidak terbuang sia-sia ke laut, atau habis karena penguapan (transpirasi), terserap oleh tanah (infiltrasi). Karena menurut ahli hidrologi, neraca air di Indonesia umumnya positif artinya jumlah air yang disuplai baik oleh air hujan, sungai, danau masih lebih banyak dari yang dibutuhkan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Ada tiga cara untuk mengatasi kemarau panjang ini: Pertama, membangun embung. Daerah-daerah yang memiliki curah hujan tinggi pada musim hujan (Jabar, Sumsel, Bengkulu, NTT, dsb) sangat memungkinkan untuk dibangun embung untuk gudang air pada musim kemarau.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;            Jumlah embung ini tergantung dari kebutuhan yang kita perlukan. Padi sawah misalnya memerlukan 6.000-12.000 m3 air/ha/musim tanam, manusia memerlukan berkisar 30-50 liter/hari untuk minum dan MCK, demikian juga ternak, ikan air tawar, dsb&lt;span style="font-size:130%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Reboisasi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Kedua, tentunya adalah melalui cara alami yang sudah diajarkan oleh nenek moyang kita, yaitu menanam kembali hutan kita yang sudah rusak. Hutan adalah penampung air yang paling andal, jumlah air yang menguap melalui tanaman dan permukaan tanah (evapotranspirasi) dapat diatur oleh ekosistem hutan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Andaikan hutan kita masih utuh seperti tiga dekade lewat, niscaya dampak negatif dari kemarau panjang dapat kita atasi. PLTA-PLTA tidak akan mengalami kekurangan air pada musim kemarau, sungai tidak akan mengering karena hutan memiliki daya menyimpan air yang tinggi.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Luas hutan kita saat ini tinggal 110 juta ha, berkurang 28 % dibandingkan dengan 10 tahun lewat. Daerah-daerah Aliran Sungai (DAS) kita sudah banyak yang rusak sehingga terjadi kekeringan pada MK dan banjir pada MH. Jika nanti Musim Hujan tiba, kita harus siap menerima bencana lain yakni banjir dan longsor.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Eksploitasi hutan yang berlebihan terutama untuk tujuan ekonomi berdampak buruk bagi keseimbangan ekosistim kita. Reboisasi, dan pelestarian hutan sangat kita perlukan saat ini agar generasi mendatang dapat menikmati hidup yang lebih baik.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Ketiga, adalah dengan melakukan penghematan penggunaan air baik untuk MCK maupun pertanian. Gerakan hemat air ini sebenarnya sudah dicanangkan lebih dari satu dekade lewat, tapi saat ini gaungnya tidak terdengar. Jika ini berhasil, penurunan debit air pada musim kering di PLTA dapat dikurangi.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Target kita untuk mencapai swasembada pangan pada tahun 2007 tentu harus dikaji ulang, mundurnya jadwal tanam akan berpengaruh terhadap pola tanam, daerah yang biasa ditanami padi tiga kali setahun tentunya akan sulit tercapai tahun ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Demikian juga dengan tanaman ketiga (musim kering tahap kedua) yang biasanya adalah palawija atau sayur-sayuran akan tidak tertanami tahun ini. Dampak dari menurunnya produksi ini sudah dapat dirasakan dengan naiknya harga-harga kebutuhan bahan pokok.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Jadi kebutuhan pangan kita akan terganggu tahun ini. Pastinya sulit mencapai produksi yang sama dengan tahun 2005, yakni 54,6 juta ton gabah. Kita harus siap mengimpor beras dan komoditi pangan lainnya, tidak perlu alergi, dan jangan dijadikan polemik atas nama petani.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Karena saat ini pun kita harusnya mengimpor beras karena harga beras (Rp 4.500 - Rp 5.000/kg) sudah di atas jangkauan kemampuan masyarakat.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;*) Penulis alumni IPB, peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumsel, Badan Litbang Deptan, Palembang (Dikutip dari Sinar Harapan Eds, 27 Nop 2006)&lt;/span&gt; &lt;/b&gt;&lt;/i&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8529594036772229025-8342327993390017018?l=syallomdailynews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/feeds/8342327993390017018/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8529594036772229025&amp;postID=8342327993390017018' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/8342327993390017018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/8342327993390017018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/2006/11/bangunlah-embung-untuk-kemarau-panjang.html' title='BANGUNLAH EMBUNG UNTUK KEMARAU PANJANG'/><author><name>SYALLOMDAILYNEWS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11374954624384231372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04405838010604872937'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8529594036772229025.post-3182550666313009465</id><published>2006-11-27T06:41:00.000-08:00</published><updated>2006-11-27T06:46:35.874-08:00</updated><title type='text'>Hymne GMKI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Wilson M.A. Therik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;JUDUL di atas mungkin terkesan aneh buat sebagian besar anggota GMKI periode 1980-an hingga saat ini, karena yang mereka kenal hanya satu yakni Mars GMKI sekalipun tidak semua anggota bisa melagukannya dengan baik. Mars GMKI memang sering dilagukan pada setiap upacara organisasi dan acara seremonial GMKI lainnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;Hymne GMKI? Penulis sangat yakin bahwa banyak sekali anggota pergerakan yang tidak mengetahui bahwa sesungguhnya GMKI juga memiliki Hymne, kalau-pun ada penulis yakin hanya sebatas mendengar cerita dari para senior GMKI.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt; Secara organisasi penulis berpendapat bahwa GMKI telah melanggar Keputusan Kongres Nasional ke-12 Tahun 1970 di Kupang di mana saat itu-lah Hymne GMKI lahir dan ditetapkan melalui sebuah Surat Keputusan Kongres. 36 Tahun kemudian di mana Kupang kembali dipercaya menjadi tuan rumah Kongres Nasional GMKI ke-30 Tahun 2006 atau Kongres Nasional GMKI yang ke-2 yang digelar di Kupang setelah tahun 1970, Hymne GMKI kembali dikumandangkan pada acara pembukaan Kongres Nasional GMKI ke-30. Keberlanjutannya? ... Semuanya kembali kepada insan GMKI terutama kepada Pengurus Pusat dan BPC GMKI se-Tanah Air untuk melagukan lagi Hymne GMKI agar dapat bersanding kembali dengan Mars GMKI.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-left: 1.5in; text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-left: 1.5in; text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;Hymne GMKI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-weight: bold;" align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;4/4                                         Syair = Daniel Lengkong&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-weight: bold;" align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;F = do                                    Lagu = Abdallah Lengkong&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-weight: bold;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Maestoso – khidmat&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Jauh diangkasa terdengar semboyanmu&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Marilah bersaksi yang mendengar panggilanNya&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Ut Omnes Unum Sint agar Satu adanya&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;bawalah FirmanNya ke s’luruh bumi ini&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Panji Kristuslah yang serta&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Pelambang ikhlas rela berkorban &lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Injil yang kudus dasar kita&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Berkat Kristuslah nyata dan terwujud &lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;dalam sepanjang hidupmu&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Oleh kasihnya yang termulia&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-weight: bold;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Reff&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Kuduslah Allah&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;GMKI Jaya&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Kuduslah Allah&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;GMKI Jaya&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;Semoga opini singkat ini bisa membangkitkan kembali semangat pergerakan GMKI tidak hanya dengan semangat Mars GMKI tetapi juga dengan kekhidmatan Hymne GMKI. Bangkitlah menjadi taruk bagi bangsa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Verdana, sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;Ut Omnes Unum Sint.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8529594036772229025-3182550666313009465?l=syallomdailynews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/feeds/3182550666313009465/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8529594036772229025&amp;postID=3182550666313009465' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/3182550666313009465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/3182550666313009465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/2006/11/hymne-gmki.html' title='Hymne GMKI'/><author><name>SYALLOMDAILYNEWS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11374954624384231372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04405838010604872937'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8529594036772229025.post-6833367430529286053</id><published>2006-11-27T05:42:00.000-08:00</published><updated>2006-11-27T05:48:18.891-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/x/blogger2/4001/1041210209566922/1600/815241/Timor%20Leste.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 199px; height: 235px;" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger2/4001/1041210209566922/200/624490/Timor%20Leste.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dua orang Polisi Nasional Timor Leste (PNTL) sedang membantu dua orang polisi PBB mengangkat jenazah seorang pria asal Bobonaro yang dibunuh orang tak dikenal di Komoro, Minggu (19/11) malam. FOTO: STL/Antonio Dasiparu&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8529594036772229025-6833367430529286053?l=syallomdailynews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/feeds/6833367430529286053/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8529594036772229025&amp;postID=6833367430529286053' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/6833367430529286053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/6833367430529286053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/2006/11/dua-orang-polisi-nasional-timor-leste.html' title=''/><author><name>SYALLOMDAILYNEWS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11374954624384231372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04405838010604872937'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8529594036772229025.post-957771410184457288</id><published>2006-11-27T05:34:00.000-08:00</published><updated>2006-11-27T05:51:15.832-08:00</updated><title type='text'>Misionaris Brasil Tewas Dibunuh di TL</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Syallomdailynews - Seorang missionaris Protestan asal Brasil, Edgar Goncalves (32) tewas dibunuh di Dili, Timor Leste.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Korban ditusuk sekelompok orang tak dikenal di depan Kedutaan Besar Australia, Fatu-Hada, Dili Barat, Minggu (19/11) malam. Pembunuhan terhadap warga asing itu merupakan pertama kali sejak terjadinya krisis politik di Timor Leste pada Mei lalu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Sementara itu, Senin (20/11) pagi, ditemukan seorang pria berbadan kekar dalam kondisi tidak bernyawa. Korban yang bernama Jose Halimesak itu ditemukan di samping kanan pintu gerbang Kantor Pusat CCF (Commite Central Fretilin) atau depan rumah Ahmad Alkatiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Bukan hanya itu, seorang warga dikabarkan tewas dalam aksi baku lempar antara pengungsi Obrigado Barak dan warga dari luar kamp pengungsian. Aksi baku lempar yang terjadi tak jauh dari Markas Besar UNMIT itu menodai aksi damai yang diprakarsai massa pemuda beberapa waktu lalu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Perdana Menteri (PM), Jose Ramos Horta merasa sedih dan marah ketika mendapat laporan tentang kematian Missionaris Edgar Goncalves Brito. “Saya sangat sedih mendengar berita pembunuhan missionaries Edgar Goncalves Brito. Saya sudah kontak Duta Besar Brasilia, Antonio Jose e Silva untuk menyampaikan duka cita dan belasungkawa yang mendalam, baik dari saya, pemerintah dan rakyat Timor kepada keluarga Brito dan kawan-kawannya, termasuk masyarakat Brasil,” kata Horta di Dili, Senin kemarin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Horta juga mengatakan bahwa adik perempuan korban, Elizama Goncalves Brito yang bertugas sebagai petugas medis di Rumah Sakit Nasional Guido Valadares (RSNGV) Dili menjadi saksi hidup pembunuhan sang kakak. Menurut Horta, kasus itu sedang dalam proses investigasi pihak otoritas setempat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Edgar Goncalves Brito adalah seorang missionaries Protestan yang mengajar bahasa Portugis dan melakukan misi sosial di distrik Viqueque. Aktivitas yang dilakukan Edgar Brito di Timor Leste sebagai symbol hubungan kerjasama yang baik antara Timor Leste dan Brasil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Kriminal Murni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Sementara itu, seorang perwira militer Australia berpangkat mayor yang enggan disebut jati dirinya dalam koran ini mengatakan kasus pembunuhan warga Distrik Bobonaro di Komoro dan pembunuhan missionaries Edgar Goncalves Brito adalah murni kriminal. “Ini bukan kasus lorosae-loromonu. Maaf saya tidak bisa memberikan keterangan detail karena ini adalah tugas polisi. Saat ini polisi sedang melakukan investigasi di TKP (Tempat Kejadian Perkara),”ujarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Wakil UNMIT, Eric Tan Huck Gim dalam jumpa persnya di Markas UNMIT, Kaikoli, membenarkan adanya penemuan mayat di Komoro. “Kami baru menerima dua laporan tentang pembunuhan terhadap seorang pria di Komoro dan seorang warga Brasil di Bidau. Kedua kasus itu masih dalam investigasi,” katanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Acting Komisaris UNPOL Chief Superintendente Emir Bilget mengatakan untuk menurunkan aksi kekerasan di Kota Dili, polisi PBB dalam waktu singkat akan mendirikan lima pos baru masing-masing di Fatu Hada, Bebonuk, Manleuana, Matadoru, dan Tasi Tolu. Ia menambahkan konstruksi pos polisi UNPOL itu masih dalam pembangunan. Karena itu, pihaknya untuk sementara hanya melakukan patroli.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Dijemput&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Berdasarkan keterangan yang dihimpun media ini di TKP (Tempat Kejadian Perkara) menyebutkan Minggu malam, dua pemuda mendatangi rumah Jose Malimesak dan mengajaknya keluar sebentar. Namun, hingga pagi hari korban belum juga kembali ke rumahnya. Tidak ada firasat buruk pada keluarga korban karena orang-orang yang mengajak korban mengaku temannya. Bahkan anak korban mengenal baik dua pemuda itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Mula-mula ayah delapan anak itu dilihat para siswa SMU 10 Desember dan warga setempat. Akhirnya, dalam waktu singkat berita itu tersebar di seluruh wilayah kota Dili. Kabar itu secepatnya dilaporkan kepada polisi PBB.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Banyak kalangan mengutuk perbuatan itu karena menodai aksi damai yang digelar massa pemuda beberapa waktu lalu. Namun, kalangan pemuda yang menginginkan kedamaian tidak ingin terpancing dengan kejadian itu. Mereka mengutuk perbuatan itu dan meminta kepada pihak berwenang untuk mengusut kasus tersebut hingga tuntas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Xefi Aldeia Aimutin, Higinio da Costa Nunes menuturkan bahwa dirinya terkejut saat mendengar kabar bahwa salah seorang warga Aimutin tewas di dekat Merkado Comoro. Ia pun langsung menuju ke TKP untuk melihatnya dengan mata kepala sendiri. Ternyata, begitu dilihat bukan warga Aimutin, tetapi tetangga. Ia juga meminta kepada pemuda Aimutin untuk tidak terpancing dengan aksi itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;“Lambat-laun para pelaku akan ditangkap polisi PBB karena pelaku dikenal baik oleh anak korban,” katanya. (STL/rudy riwukaho)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8529594036772229025-957771410184457288?l=syallomdailynews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/feeds/957771410184457288/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8529594036772229025&amp;postID=957771410184457288' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/957771410184457288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/957771410184457288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/2006/11/misionaris-brasil-tewas-dibunuh-di-tl.html' title='Misionaris Brasil Tewas Dibunuh di TL'/><author><name>SYALLOMDAILYNEWS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11374954624384231372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04405838010604872937'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8529594036772229025.post-4101426754546547346</id><published>2006-11-27T05:10:00.000-08:00</published><updated>2006-11-27T05:18:27.611-08:00</updated><title type='text'>Hillsong United Dukung Gerakan Doa Pemuda Global SHOCKWAVE</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kristiani Post - Youth pastor dari Hillsong Youth di Australia telah mengekspresikan dukungannya untuk peristiwa doa pemuda global mendatang yang didedikasikan untuk 200 juta umat Kristiani yang teraniaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya hanya ingin mengatakan kalau kamu harus terlibat dalam SHOCKWAVE pada 2 Maret 2007," kata Phil Dooley Kamis lalu melalui siaran video. "Apa yang kami minta hanyalah agar semua orang berkumpul bersama dan berdoa bersama dengan kawan-kawan anda, di kelompok-kelompok pemuda kami, atau kamu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hei, mari jadi orang yang serius mengenai iman kita dan membantu dan mendukung mereka yang berada dalam situasi sulit saat ini. Kita bisa melakukannya hanya dengan berkumpul pada 2 Maret untuk SHOCKWAVE dan berdoa dan percaya ombak goncangan akan keluar ke seluruh penjuru dunia kita dan berdampak dan menguatkan mereka yang imannya dalam pencobaan saat ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan orang di seluruh dunia akan berdoa untuk sekitar 200 juta orang Kristiani yang menderita karena iman mereka selama doa nonstop untuk dunia Muslim pada 2-4 Maret. Acara doa pemuda tiga hari itu diatur oleh Underground, ministry pemuda dari Open Doors dan akan menjadi tahun kelima bagi SHOCKWAVE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saudara dan saudari kita sudah mengatakan kepada kita apa yang mereka butuhkan. Pertama, dan yang paling penting, mereka memohon kita untuk berdoa!" kata Brother Andrew, pendiri Open Doors dalam sebuah pernyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hal itu sama dengan pelayanan saya yang sudah limapuluh tahun lamanya; kemanapun saya pergi untuk menguatkan saudara dan saudari kita, mereka selalu meminta doa…doa adalah bagian kritis dari pekerjaan Open Doors…doa menghubungkan kita dengan tubuh. Doa menolong kita mengidentifikasi mereka yang menderita dan berjuang sebagai orang Kristiani di saat-saat sulit. Doa membawa masalah-masalah ini menjadi satu sumber yang benar-benar dapat membawa perubahan," kata Brother Andrew.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SHOCKWAVE akan dimulai di Selandia Baru dan bergerak di sepanjang zona waktu dan "melewati halangan-halangan buatan manusia dan zona-zona buntuk, secara harafiah benar-benar menutupi dunia dalam doa," jelas Open Doors Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remaja dari Selandia Baru, Australia, Indonesia, Afrika Selatan, Swiss, Italia, Norwegia, Kamerun, Rumania, Inggris Raya, Irlandia, Amerika Serikat dan Brasil berpartisipasi dalam SHOCKWAVE 2006. Di Perancis, sekitar 100 kelompok terlibat sementara di Namibia tiga sekolah berkumpul untuk berdoa dengan total 1.200 "pejuang doa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Doa benar-benar sangat dibutuhkan untuk negara-negara seperti Korea Utara, yang tetap teratas dari World Watch List Open Doors selama empat tahun berturut-turut," menurut rilis berita Open Doors Inggris. "Korea Utara diikuti Kerajaan Islam Arab saudi berada di tempat kedua sementara Iran, Somalia dan Maldives di belakangnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Open Doors Inggris, Irina Ratushinskaya, yang adalah tahanan di sebuah kamp penjara Soviet selama tujuh tahun, dia mengalami kekuatan langsung dari doa dan menulis: "Percayalah kepada saya, seringkali terjadi: dalam sel isolasi, pada waktu musim dingin tiba-tiba ada perasaan sukacita dan kehangatan - kata kasih yang tidak dapat diucapkan. Dan pada saat saya tidak bisa tidur, duduk menghadap sebuah tembok beku - seseorang mengingat saya dan memohon di hadapan Tuhan saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Phil Togwell, UK Base Leader dari 24-7 Prayer, memberi kesaksian: "Dalam kotak surat saya ada email dari seorang sahabat saya. Dia tinggal bersama istri dan kedua anaknya di sebuah negara yang sangat beresiko untuk mengakui kamu seorang Kristiani, dan dia meminta saya untuk berdoa. Mereka berusaha bertemu dengan orang Kristiani lain, tapi orang akan dipenjara kalau melakukan ini. Saya menemukan ini sangat sulit untuk dibayangkan, tapi itu sangat nyata, sangat nyata."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di penjuru dunia, umat Kristiani dipenjara dan dipukuli dan disiksa, dan bahkan dibunuh, hanya karena mereka mengasihi Yesus. SHOCKWAVE mengingatkan kita akan perlunya kita berdoa untuk Gereja Teraniaya, dan juga memperlengkapi kita dengan sesuatu untuk dilakukan. Saya mendorong kamu untuk ikut terlibat." Untuk informasi lebih lanjut kunjungi: www.odshockwave.org&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Jennifer Riley : Koresponden Kristiani Pos)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8529594036772229025-4101426754546547346?l=syallomdailynews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/feeds/4101426754546547346/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8529594036772229025&amp;postID=4101426754546547346' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/4101426754546547346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/4101426754546547346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/2006/11/hillsong-united-dukung-gerakan-doa.html' title='Hillsong United Dukung Gerakan Doa Pemuda Global SHOCKWAVE'/><author><name>SYALLOMDAILYNEWS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11374954624384231372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04405838010604872937'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8529594036772229025.post-9117356374075105296</id><published>2006-11-25T07:27:00.000-08:00</published><updated>2006-11-26T20:03:54.534-08:00</updated><title type='text'>INTROSPEKSI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PIKIRAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:georgia;" &gt;Setiap perbuatan atau tindakan yang kita lakukan,itu adalah hasil dari apa yang kita pikirkan. Ingat,pikiran negatif yang melintasi benah hati kita bukanlah suatu dosa. Namun, kalau kita membiarkan dan memendam pikiran itu ada di dalam hati kita atau mewujudkannya dalam tindakan yang negatif, maka muncullah dan jadilah dosa. Dan perlu diperhatikan upah dosa ialah maut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:georgia;" &gt;Untuk itu yang Tuhan inginkan dalam kehidupan kita sehari-hari supaya perlu menawan dan melawan setiap pikiran negatif tersebut dan segerah berserah kepada Tuhan karena hanya didalam Tuhan Saudara dapat melawan semuanya itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:georgia;" &gt;Kami percaya lewat pergaulan kita kepada Tuhan, maka setiap pikiran-pikiran kita tidak terarah lagi pada hal-hal yang negatif. Untuk itu apabila saat ini, ada pikiran-pikiran yang negatif, yang salah dimata Tuhan, mohon pengampunan dan jamahan dariNYA supaya pikiran kita diubahkan menjadi pikiran Kristus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:georgia;" &gt;Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus ? &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:georgia;" &gt;II Korintus 10:5B, Tuhan Yesus memberkati. (GOTN)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8529594036772229025-9117356374075105296?l=syallomdailynews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/feeds/9117356374075105296/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8529594036772229025&amp;postID=9117356374075105296' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/9117356374075105296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/9117356374075105296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/2006/11/untuk-direnungkan.html' title='INTROSPEKSI'/><author><name>SYALLOMDAILYNEWS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11374954624384231372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04405838010604872937'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8529594036772229025.post-7810700417227698524</id><published>2006-11-24T03:38:00.000-08:00</published><updated>2006-11-26T20:15:10.971-08:00</updated><title type='text'>HUTAN MUTIS YANG TERBAKAR, DAERAH ALIRAN SUNGAI MERANA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Oleh: Dr.Ir. L. Michael Riwu Kaho, M.Si  *)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Times;font-size:130%;"  &gt;&lt;b&gt;SELAMA &lt;/b&gt;be&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Times;font-size:130%;"  &gt;b&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Times;font-size:130%;"  &gt;erapa hari terakhir, beberapa media massa lokal menyuguhkan berita menarik tentang hutan Mutis, lebih tepat adalah hutan Cagar Alam (CA) Mutis yang terbakar. Saya sungguh tidak tahu apakah kita merasa terusi&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Times;font-size:130%;"  &gt;k atau tidak terusik dengan berita it&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Times;font-size:130%;"  &gt;u. Ada paradigma umum dalam pemberitaan pers &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Times;font-size:130%;"  &gt;di Indonesia, yaitu &lt;i&gt;good news is bad news&lt;/i&gt;. Taruh kata paradigma ini benar maka seharusnya berita tentang terbakarnya hutan CA Mutis adalah &lt;i&gt;bad news&lt;/i&gt; yang &lt;i&gt;good news&lt;/i&gt;. Lantas, apakah dengan&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Times;font-size:130%;"  &gt; demikian berita tentang terbakarnya Mutis menjadi komoditas berita yang booming. Tidak juga. Kebanyakan kita mungkin lebih menyibuKkan diri dengan berita tentang isu Pilwakot (mudah-mudahan jangan menjadi pilih wajah kotor) Kupang, Rapimnas Golkar, Kedatangan Cowboy dari Amerika Serikat &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Times;font-size:130%;"  &gt;George W Bush ke Indonesia, isu tentang pertikaian Presiden SBY dengan Wapres tercinta JK atau tentang dana Silpa. Semua pokok berita tersebut adalah berita-berita hangat dan laris. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Times;font-size:130%;"  &gt;Bahkan mungkin kalah heboh dibandingkan den&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Times;font-size:130%;"  &gt;gan berita tentang Joy Tobing, Baim ex Ada Band tebar pesona dan berita lain tentang para selebritis yang suka jual tampang dan sensasi itu. Baiklah kita sudahi dulu ungkapan &lt;i&gt;palese&lt;/i&gt; minta p&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Times;font-size:130%;"  &gt;erhatian seperti itu. Anggap saja kurangnya perhatian tentang kebakaran Mutis sebagai tantangan bagi semua pemerhati dan pencinta lingkungan hidup untuk terus berjuang bagi penyadaran umum tentang pentingnya menjaga&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Times;font-size:130%;"  &gt; kelestarian lingkungan hidup dan sumberdaya. Bukan karena apa-apa, tetapi karena memang di situlah setiap orang hidup dan berkehidupan. Kita kembali saja kepada kasus kebakaran Hutan CA Mutis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Times;font-size:130%;"  &gt;Kekhawatiran terhadap degradasi ekosistem Mutis sudah menjadi wacana seluruh elemen terkait baik pada tingkat lokal, regional maupun nasional, salah satunya adalah Forum Daerah Aliran Sungai Nusa Tenggara Timur. Melalui kerjasama Forum DAS NTT dengan WWF Indonesia Program Nusa Tenggara, sudah mencoba melakukan kajian-kajian strategis terhadap seluruh potensi sumberdaya dan kebijakan dalam pengelolaan DAS Benenain Noelmina, sehingga pada tanggal 28-29 Juni 2006 dilaksanakan workshop pengelolaan terpadu DAS Benain Noelmina di Kupang yang melibatkan seluruh unsur terkait mulai dari DPRD NTT, Pemerintah Provinsi NTT, Perguruan Tinggi, Pemerintah Kabupaten/Kota, Rohaniawan, tokoh adat, masyarakat hulu, tengah dan hilir, LSM, PDAM, perwakilan dari Departemen Kehutanan dan Departemen Pekerjaan Umum. Tulisan ini merupakan pengantar awal dari seluruh rangkaian tulisan yang dipublikasikan untuk mencoba mengangkat persoalan mendasar yang terjadi pada seputaran DAS Benenain Noelmina. Para penulis selanjutnya merupakan tim risetyang terlibat dalam penyusunan konsep pengelolaan terpadu DAS Benenain Noelmina, berasal dari berbagai latar belakang ilmu dan institusi yang terhimpun dalam Forum DAS NTT.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Times;font-size:130%;"  &gt;Hutan Indonesia tampaknya sudah menjadi pelanggan rutin bencana kebakaran. Bahkan, karena terlalu seringnya kebakaran maka setiap bencana lalu terasa sebagai suatu rutinitas belaka. Bahkan malu karena ekspor asap ke negara tetangga mudah berlalu seperti asap saja. Bagaimana dengan di Nusa Tenggara Timur. Wah, kalau soal kebakaran maka NTT bukan lagi pelanggan kebakaran tetapi sudah menjadi produsen kebakaran. Jikalau meminjam istilah di kalangan pers maka NTT tampaknya sudah merupakan bagian dari konglomerat penerbit kebakaran yang hoffklass atau kelas wahid. Mana ada lahan yang tidak dikelola dengan tanpa api? Mudah sekali menemukan kebakaran lahan di NTT begitu selesai musim hujan dan memasuki awal kemarau. Dahulu kala, orang membakar hanya untuk mempersiapkan lahan menjelang musim hujan. Lalu, alasan itulah yang kita dengar jika terjadi kebakaran kapan saja. Pertanyaannya adalah, lahan apa yang mau dibuka di awal musim kemarau. Mau bertanam, airnya dari mana? Memangnya air dari kencing sapi? Maka tidak ada nalar lain bahwa api pada awal kemarau pasti digunakan tidak untuk mempersiapkan lahan. Di Australia, orang Aborigin membakar lahan mereka justru di awal kemarau agar supaya kebakaran dapat lebih terkendali. Tetapi itu kan di Australia. Apa alasan orang origin Timor, origin Sumba dan origin Flores serta origin-origin lain di NTT membakar lahan?. Ada alasan lain pembakaran, yaitu membakar untuk padang penggemba-laan, membakar untuk berburu, membakar karena konflik dan ada orang yang membakar karena senang melihat nyala api. Metzner (1980) pernah menyebutkan orang NTT sebagai pengidap pyromaniac. Suatu istilah yang keren tetapi sayang sekali karena kata itu berarti gila api. Wah, keterlaluan meneer yang satu itu. Perlu dicatat bahwa semua alasan membakar lahan seperti yang diungkapkan tersebut bukan omong kosong belaka tetapi merupakan temuan dalam suatu penelitian untuk Disertasi. Pertanyaannya adalah, apakah membakar adalah melulu kesalahan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Times;font-size:130%;"  &gt;Dalam penelitiannya di savana Ekateta, Kabupaten Kupang, Riwu Kaho (2005) menemukan fakta bahwa kebakaran lahan savana justru diperlukan savana untuk mempertahankan stabilitas ekosistemnya. Dibuktikan juga bahwa ekosistem savana adalah ekosistem yang paling stabil di daerah kering seperti di Timor dan salah satu faktor penentu stabilitas, ya itu tadi, api. Akan tetapi peneliti yang sama juga mengingatkan bahwa kebakaran yang terlalu sering dan dilakukan pada waktu yang sembarangan akan membawa dampak yang buruk. Kebakaran yang terlalu sering akan menghabiskan bahan organik tanah, menghabiskan nitrogen tanah, mereduksi daya infiltrasi air ke dalam tanah, menstimulasi terjadinya erosi, dapat menyebabkan sifat tanah menjadi sangat basa yang berbahaya bagi tanamandan dapat mestimulasi penyebaran tumbuhan gulma. Kebakaran yang dilakukan pada waktu yang sembarangan dapat memicu kebakaran lebih dahsyat dibandingkan dengan kebakaran pada saat api disulut. Dalam penelitiannya, Riwu Kaho menemukan fakta bahwa pada kebakaran yang terjadi di saat suhu udara mencapai maksimum dengan tingkat kelembaban udara yang minimum (biasanya terjadi di antara pukul 11 - 15 siang) akan menyebabkan fenomena api loncat (&lt;i&gt;jumpfire&lt;/i&gt;), yaitu pergerakan api yang beloncatan tidak menentu. Kebakaran tipe ini terjadi karena segera sesudah disulut, api akan memiliki cuaca mikronya sendiri. Dalam keadaan ini maka, di mana saja ada bahan bakar (&lt;i&gt;fuels&lt;/i&gt;), apakah itu rumput, daun, ranting, kayu mati dan lain sebagainya, api akan merambat ke situ. Kebakaran seperti ini bersifat sangat liar dan orang bule menyebutnya sebagai &lt;i&gt;wildfire&lt;/i&gt;. Api liar seperti ini sangat sulit untuk dipadamkan. Inilah yang terjadi pada kebakaran di Sumatera, di Australia dan di mana saja ketika &lt;i&gt;wildfire&lt;/i&gt; terjadi. &lt;i&gt;Wildfire&lt;/i&gt; hanya akan padam menurut kemauannya sendiri. Anda bisa memadamkannya tetapi dengan usaha yang berlipat-lipat keras serta memakan banyak biaya dan tenaga. Sekali waktu tampak padam tetapi tiba-tiba api dapat muncul dari arah yang berlawanan tanpa disadari. Fenomena inilah yang tampaknya terjadi pada kebakaan hutan di Mutis. Saya kutip berita tentang kebakaran di Mutis sebagai berikut "...sejumlah warga yang ikut memadamkan api mengaku harus pontang panting karena nyala api bisa muncul di mana-mana sehingga sangat sulit dipadamkan" (&lt;i&gt;Pos Kupang&lt;/i&gt;, 16 November 2006).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Times;font-size:130%;"  &gt;Kita cukupkan dulu pembahasan tentang fenomena kebakaran. Lain kali disambung lagi karena ceritera tentang api masih amat sangat banyak. Tunggu saja. Sekarang kita tengok, apa sesungguhyna alasan orang membakar lahan. Sepintas kita telah mengetahuinya barang sedikit di bagian depan, yaitu untuk membuka lahan, memelihara padang penggembalaan, berburu, kesenangan, dan lain sebagainya. Akan tetapi hal-hal tersebut bukanlah akar pesoalan. Pengalaman bergaul dengan masyarakat pembakar savana di Ekateta dan kemudian menghitung-hitung beberapa variabel mengajarkan kepada Riwu Kaho (2005) bahwa orang membakar karena alasan ekonomi dan budaya. Ada 2 alasan ekonomis, yaitu api meru-pakan bentuk substitusi tenaga kerja dan substitusi pupuk. Alasan budaya peng-gunaan api ditemukan pada fakta bahwa api adalah warisan tradisi yang merupakan jati diri. Api adalah sarana pencucian jiwa. Pada titik ini, Poerwanto (2005, mengutip Kartodirdjo, 1979) memper-ingatkan bahwa sebagian besar masyarakat di pedesaan Indonesia mengalami 2 macam sindroma, yaitu sindroma kemis-kinan dan sindroma enersia. Poerwanto lalu mempertautkan kedua macam sindroma tersebut menjadi satu macam saja, yaitu sindroma kemiskinan dengan asumsi bahwa kedua macam sindroma tersebut selalu berada dalam hubungan sebab akibat yang bersifat dua arah. Sindroma kemiskinan termanifestasi dalam bentuk rendahnya tingkat produktivitas, pengangguran,kurang gizi, tingkat kematian bayi tinggi, tingkat pendidikan rendah termasuk tingginya tingkat buta huruf. Sedangkan sindroma enersia tampak dari sikap fatalisme, passivisme, rasa saling ketergantungan yang tinggi, kehidupan serba mistik dan lain sebagainya. Dalam kerangka pikir teori ini, maka dapat diajukan suatu hipotesis bahwa kebakaran lahan yang terjadi berulang dan sembarang di NTT adalah manifestasi dari sindroma kemiskinan dan enersia itu. Seandainya petani di Mutis cukup kaya maka mereka dapat menyewa tenaga kerja yang banyak sehingga api tidak perlu digunakan. Jika mereka tidak miskin maka pupuk dapat terbeli oleh mereka. Jika mereka tidak pasif maka pasti ada cara lain dalam mengelola lahan pertanian mereka yang tidak semata-mata menggunakan api. Kalaupun mereka mengunakan api, maka mungkin akan sama dengan rekan petani mereka yang kaya di negerinya tuan Geroge W. Bush, mereka akan menggunakan metode &lt;i&gt;prescribed fire&lt;/i&gt;. Lalu, janganlah mereka ditakut-takuti lagi dengan ceritera bahwa kebakaran terjadi karena alam Mutis murka. Hal ini akan semakin membe-namkan mereka pada situsi kelembaman mistik yang pekat. Tidak, kebakaran bukan karena alam Mutis murka tetapi karena penggunaan api yang sembarang dan tidak memperhitungkan konsekuensi ekologis dari kesemberonoan itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Times;font-size:130%;"  &gt;Hutan Mutis terbakar sudah. Rahim Benenain-Noelmina menangis sudah. Apa kaitan antara Hutan CA Mutis dan Sungai Benenain-Noelmina. Ah, tempo hari ketika pergi ke Fatumnasi kami lihat hubungan keduanya baik-baik saja. Teta-pi kabarnya sekarang hubungan kedua-nya korslet beraat boss. Betapa tidak. Tegal perkara hutan CA Mutis dirambah dan dibakar maka orang di Belu dan Be-na menangis karena banjir. Di awal ta-hun 2006 dua kali banjir bandang melan-da Belu dan airnya diduga berasal dari hulu sungai di Mutis. Tetapi, sebaliknya, ketika orang di Bena dan Belu tingkat ekonominya lebih baik maka orang di Mutis hidup susah karena hutannya tidak boleh diapa-apakan karena merupakan daerah cagar alam. Ah, ada apa pula ini, kata si Poltak Raja Minyak....&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Times;font-size:130%;"  &gt;Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu daerah tertentu yang bentuk dan sifat alamnya sedemikian rupa, sehingga merupakan kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya yang melalui daerah tersebut dalam fungsinya untuk menampung air yang berasal dari curah hujan dan sumber air lainnya dan kemudian mengalirkannya melalui sungai utamanya &lt;i&gt;(single outlet)&lt;/i&gt;. Satu DAS dipisahkan dari wilayah lain di sekitarnya (DAS-DAS lain) oleh pemisah dan topografi, seperti punggung perbukitan dan pegunungan. Seorang pakar hidrologi hutan (Asdak, 2002) mengatakan bahwa DAS adalah suatu wilayah daratan yang secara topografik dibatasi oleh punggung-punggung gunung yang menampung dan menyimpan air hujan untuk kemudian menyalurkannya ke laut melalui sungai utama. Wilayah daratan dimaksud dinamakan sebagai daerah tangkapan air yang merupakan suatu ekosistem dengan unsur-unsur utama adalah sumberdaya alam(tanah, air dan vegetasi) dan sumberdaya manusia sebagai pemanfaat sumberdaya alam. Dari batasan ini maka dapatlah dideskripsikan bahwa Gunung Mutis dan sekitarnya adalah gunung yang menampung air, Benenain dan Noelmina adalah penyalur air dalam bentuk sungai dan ka-wasan di Belu Selatan dan Bena, TTS adalah daerah dekat laut sebagai muara sungai. Dalam konsep DAS, kawasan Mutis disebut sebagai hulu DAS &lt;i&gt;(up stream)&lt;/i&gt; dan Bena serta Belu Selatan adalah hilir DAS &lt;i&gt;(down stream)&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Times;font-size:130%;"  &gt;Karena hubungan seperti yang baru diuraikan dan karena air mengalir dari atas ke bawah mengikuti gradien gravitasi maka dapat dimengerti jika sesuatu yang terjadi di hulu DAS akan menentukan apa yang terjadi di hilir. Sebaliknya, dalam keadaan yang biasa-biasa saja, jarang terdengar bahwa apa-apa yang terjadi di hilir akan mempengaruhi kondisi di hulu. Jadi, memang sudah dari &lt;i&gt;sono&lt;/i&gt;-nya orang hulu selalu diminta berhati-hati sedangkan orang di hilir boleh lebih kurang berarti. Mau bukti? Kebakaran yang mungkin terjadi di hutan kateri di Belu (hilir) tidaklah semenarik kasusnya jika dibandingkan dengan kebakaran di Mutis sebagai daerah hulu. Karena orang hulu akan menjadi takut mendapat banjir. Banjir kiriman katanya. Ketika terjadi bencana banjir maka orang hilir menderita sambil menjerit...orang hulu suda bekin susah kitong samua. Akan tetapi batul bagitu ko?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Times;font-size:130%;"  &gt;Dalam model normal, maka anggapan bahwa kerusakan ekosistem di hulu menyebabkan kerugian di hilir adalah benar adanya. Kerusakan di bagian hulu DAS akan memicu erosi dan sedimentasi sehingga daya tampung sungai akan aliran air berkurang sehingga mu-dah terjadi banjir. Kerusakan di hulu akan menyebabkan air larian meningkat sehingga semakin besar jumlah air yang harus ditampung oleh sungai. Pokoknya, kerusakan di hulu akan mengakibatkan penderitaan di bagian hilir. Akan tetapi keadaan untung rugi kawasan hulu-hilir tidak semata seperti itu. Karena erosi dan sedimentasi maka tanah di bagian hilir DAS umumnya lebih subur sehingga produktivitas pertanian lebih baik. Masyarakat di bagian hilir memiliki kesempatan berusaha yang lebih luas. Menjadi petani oke saja. Bosan bertani maka jadi petambak ikan ya oke-oke juga. Sementara itu, orang di hulu lebih terbatas. Karena rona vegetasi hulu adalah hutan, apalagi hutan CA seperti di Mutis, maka orang hulu hanya bisa "menonton" kawasan hutan yang ada. Bergerak sedikit saja di dalam kawasan hutan akan dituduh sebagai perambah. Akibatnya, dalam sistem ekonomi masayarakat hulu-hilir, adalah masyarakat hulu yang lebih miskin. Hal ini terbukti dari hasil penelitian tim Forum DAS NTT yang menemukan fakta bahwa ternyata tingkat pendapatan masyarakat di hilir Benanain-Noelmina lebih tinggi dibandingkan dengan masayarakat di hulu. Maka, orang di hulu DAS mangomel : kitong yang jaga utan dorang di hilir yang kaya. Pung enak laiiii!!!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Times;font-size:130%;"  &gt;Begitulah, tuding menuding antara masyarakat hulu dan hilir selalu terjadi. Bagai-mana mendamaikannya. Adagiumnya jelas, yaitu kalau semua baik-baik saja maka pertengkaran tidak akan ada. Persoalannya ada-lah bagimana membuat se-muanya baik-baik saja dalam keadaan seperti yang telah diuraikan? Jawabannya ada-lah harus ada sistem pengelolaan DAS yang terpadu. Pengelolaan DAS (PDAS) adalah upaya manusia dalam mengendalikan hubungan timbal balik antara sumber daya alam dengan manusia di dalam DAS dan segala aktivitasnya, dengan tujuan membina kelestarian dan keserasian ekosistem serta meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam bagi manusia secara berkelanjutan. Hubungan timbal balik antara SDA dan SDM sangat penting karena SDM akan menentukan rona SDA. Sementara itu, pengertian pengelolaan DAS terpadu adalah proses formulasi dan implementasi suatu kegiatan yang menyangkut pengelolaan sumber daya alam dan manusia dalam suatu DAS dengan mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi dan kelembagaan di dalam dan sekitar DAS, termasuk untuk mencapai tujuan sosial tertentu. Pengelolaan DAS terpadu dilakukan melalui pendekatan ekosistem yang dilaksanakan berdasarkan prinsip "satu sungai, satu rencana, satu pengelolaan" (&lt;i&gt;one river, one plan, one management &lt;/i&gt;-- teman-teman di Forum DAS NTT menyebutnya sebagai &lt;i&gt;wawan&lt;/i&gt;) de-ngan memperhatikan sistem pemerintahan yang desen-tralistis sesuai jiwa otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab. Satu sungai (dalam arti DAS) merupakan kesatuan wilayah hidrologi yang dapat mencakup bebe-rapa wilayah administratif yang ditetapkan sebagai satu kesatuan wilayah pengelolaan yang tidak dapat dipisah-pisahkan; Dalam satu sungai hanya berlaku Satu Rencana Kerja yang terpadu, menyeluruh, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan; Dalam satu sungai diterapkan Satu Sistem Pengelolaan yang dapat menjamin keterpaduan kebijakan, strategi perencanaan serta operasionalisasi kegiatan dari hulu sampai hilir.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Times;font-size:130%;"  &gt;Jelas sudah bahwa konflik kewilayahan antara daerah hulu-hilir, antar kabupaten (jika aliran sungainya bersifat lintas kabupaten, antara provinsi (jika aliran sungainya bersifat lintas provinsi), dan bahkan lintas negara (jika aliran sungainya bersifat lintas negara) hanya dapat direduksi jika ada penlolaan DAS secara terpadu. Pengelolaan DAS dengan cara ini mudah diucapkan tetapi sangat sulit dipraktekkan. Untuk memudahkan orang dalam menyusun PDAS terpadu, dan dengan demikian praktek PDAS terpadu menjadi lebih mudah harus memenuhi beberapa persayaratan, yaitu harus tedapat suatu sistim pangkalan data (&lt;i&gt;data base&lt;/i&gt;) yang diakui validitas dan reliabilitasnya secara bersama-sama (multipihak) serta harus ada kriteria dan indikator yang jelas dalam pengelolaan sehingga semua pihak dapat memiliki alat ukur yang sama untuk mengatakan bahwa: oh...iya...kita sudah maju dan berhasil sampai di sini dan belum begitu baik di sana....Pangkalan data yang dimiliki harus disusun atas beberapa aspek penting, yaitu aspek kebijakan dan peraturan perundangan, tata ruang, eko-nomi kawasan, sosial, budaya, dan kelembagaan, lahan dan sumberdaya mineral, pertanian, perkebunan,dan peternakan, kehutanan dan sumberdaya air. Lantas, berbasis aspek-aspek dalam &lt;i&gt;data base&lt;/i&gt; itulah sistem kriteria dan indikator dikembangkan. Gampang ko? Susah ko?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Times;font-size:130%;"  &gt;Susah dan gampang dalam penyusunan Pengelolaan DAS Terpadu adalah suatu perkara yang relatif tetapi ada satu hal yang dipastikan bah-wa pekerjaan ini membutuhkan waktu dan komitmen se-mua pihak untuk duduk, ber-bicara, berpikir dan menulis-kan sesuatu secara bersama dan sinergis. Pembaca yang budiman, kawan-kawan di Forum DAS NTT akan berba-gi ceritera bersama Anda tentang suka duka penyusunan rencana Pengelolaan DAS Terpadu yang dikerjakan hampir sepanjang tahun 2006 ini. Bukan sekedar berceritera tentang proses tetapi juga me-reka akan berbagi ilmu ten-tang apa-apa yang telah diha-silkan. Mereka bekerja keras. Sangat keras, dengan &lt;i&gt;reward&lt;/i&gt; yang sebenarnya kurang pantas untuk dibicarakan. Walaupun begitu mereka berkeyakinan bahwa sesuatu yang baik pasti akan disertai dan diberkati oleh Tuhan yang Maha Esa. Dan inilah &lt;i&gt;reward&lt;/i&gt; yang sejati. Se-moga, di akhir sharing, Anda mendapatkan sesuatu yang bermanfaat dan mau bergabung dalam pekerjaan yang baik ini. Karena sesungguhnya seluruh permukaan bumi ini adalah sistem DAS itu sendiri. &lt;span style="font-family:arial;"&gt;(PK)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;span style="font-family:Times;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;*) Ekolog Undana, Senior GMKI Cabang Kupang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8529594036772229025-7810700417227698524?l=syallomdailynews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/feeds/7810700417227698524/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8529594036772229025&amp;postID=7810700417227698524' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/7810700417227698524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/7810700417227698524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/2006/11/hutan-mutis-yang-terbakar-daerah-aliran.html' title='HUTAN MUTIS YANG TERBAKAR, DAERAH ALIRAN SUNGAI MERANA'/><author><name>SYALLOMDAILYNEWS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11374954624384231372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04405838010604872937'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8529594036772229025.post-5276572258334166349</id><published>2006-11-24T02:57:00.000-08:00</published><updated>2006-11-24T05:22:01.710-08:00</updated><title type='text'>GMKI DAN NEOLIBERALISME</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Periode 2004-2006: Fase Wacana dan Institusionalisasi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: Sylvester Ndaparoka, SP *)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;     &lt;/b&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;NEOLIBERALISME (Neolib) adalah isu strategis yang menjadi perhatian semua elemen civil society secara global dan nasional-Indonesia, termasuk GMKI. Hasil Kongres ke-29 di Pemantang Siantar dalam Garis Besar Program dan Kebijakan Umum Organisasi mengamanatkan GMKI untuk meresponi secara serius akan isu strategis ini. Kongres ke-30 ini juga masih mengagendakan Neolib sebagai isu kunci dan hal ini kembali ditegaskan oleh Ketua Umum PP GMKI (Bung Kenly Poluan, S.Pd), Ketua Umum Panitia Nasional Kongres 30 (Bung Drs. Ibrahim A. Medah) dan Sekretaris Umum Panitia Nasional Kongres 30 (Usi Dra. Yaherlof Jacob-Foeh) dalam Talk Show interaktif TVRI Kupang pada hari Jumat (3/11).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;    &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"  style="font-size:130%;"&gt;            Dari pengamatan cabang dan PP, telah menerjemahkan Neolib secara beragam. Misalnya: (a) Neolib menjadi materi-standar dan muatan baru dalam pelaksanaan kaderisasi anggotadi aras cabang. Misalnya di Cabang Kupang, Waingapu, Salatiga, Makassar, Jakarta, Medan, Papua adalah contoh cabang yang diketahui. (b) menjadi bahan study dan diskusi yang serius di tingkat komisariat, BPC, PP maupun lembaga-lembaga bentukan GMKI. Dari 2 model penerjemahan ini sebenarnya memberikan kesimpulan sementara bahwa Neolib telah menjadi wacana. Neolib baru dijadikan perspektif  baru berprogram di GMKI. Atau dalam kalimat “Kaderisasi” bisa disebutkan bahwa &lt;i&gt;Neolib telah memasukki ranah knowledge para kader GMKI setanah air selama 2 tahun terakhir&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"  style="font-size:130%;"&gt;Sikap Gereja: sudah selangkah ke depan. Gereja di Indonesia seperti GMIT (Gereja Masehi Injili di Timor) dalam beberapa study internalnya yang difasilitasi oleh Litbang GMIT telah pula menelurkan perjuangan konkrit atas berkenan dengan globalisasi dan Neolib. Adapun nilai-nilai yang diperjuangkan GMIT&lt;i&gt;, Ekonomi dan Globalisasi &lt;/i&gt;adalah (1) Perdagangan yang saling menguntungkan dengan menghilangkan eksploitasi ekonomi, (2) Menciptakan sebuah sistem dan mekanisme perdagangan yang adil, (3) Mewujudkan keberpihakan yang nyata terhadap jemaat-jemaat, warga masyarakat/kelompok pinggiran yang marjinal, (4) Mengusahakan terciptanya keseimbangan yang sehat antara sistem ekonomi yang berbeda-beda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"  style="font-size:130%;"&gt;Akhir-akhir ini isu ini kian kuat dalam gerejam bahkan dalam pertemuan Dewan Gereja-gereja se-Dunia termasuk PGI adalah “memerangi” Neolib. Hal ini bisa dibaca dengan jelas dalam dokumen yang terkenal AGAPE &lt;i&gt;(Alternative Globalization Addressing People and Earth)&lt;/i&gt; inti komitmen dan Doa Gereja ini adalah pengambilan langkah aksi setelah bergumul dalam wacana dan empirisme Neolib. Ini konsolidasi gerakan gereja yang luar biasa dan memiliki kekuatan Doa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Periode 2006-2008: Fase Aksi Konkrit dan Penyatuan Kekuatan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;         Momentum Kongres 30 ini di Kupang, menjadi strategis GMKI untuk menyatakan sikap dan konsistensinya berkenan dengan Neolib. Artinya kalo periode kemarin adalah periode konsolidasi wawasan tentang Neolib maka periode kali ini adalah masa untuk konsolidasi aksi. Keputusan kongres berkenan dengan Neolib dalam rumusan GBPKUO adalah cara terbaik. Komitmen cabang-cabang menjadi penting untuk “mensepakati” bahwa GMKI perlu konsolidasi gerakan aksi pelayanan memerangi Neolib. Gerakan Anti Neolib perlu menjadi “arus-utama” program GMKI se-tanah air&lt;/span&gt;.&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:85%;"  &gt;(Wilson Therik)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;*) Penulis, Korwil VII PP GMKI Masa Bakti 2002-2004, Ketua Bidang Organisasi BPC GMKI Kupang Masa Bakti 2000-2002.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8529594036772229025-5276572258334166349?l=syallomdailynews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/feeds/5276572258334166349/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8529594036772229025&amp;postID=5276572258334166349' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/5276572258334166349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/5276572258334166349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/2006/11/gmki-dan-neoliberalisme.html' title='GMKI DAN NEOLIBERALISME'/><author><name>SYALLOMDAILYNEWS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11374954624384231372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04405838010604872937'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8529594036772229025.post-415454938567356596</id><published>2006-11-22T23:11:00.000-08:00</published><updated>2006-11-22T23:24:29.047-08:00</updated><title type='text'>DI CARI SEORANG PEMIMPIN?</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;OLEH: ARMADO TAMBUNAN, SE *)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika saya membaca surat kabar saya melihat kolom-kolom khusus mengenai lowongan pekerjaan kolom tersebut menawarkan segala macam jenis pekerjaan dengan kriteria-kriteria tertentu baik itu tingkat pendidikan ataupun keahlian-keahlian berikut juga pengalaman-pengalaman yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan, sejenak saya merenungkan apakah dengan kriteria yang ditentukan seseorang dapat langsung diterima dengan mudah untuk posisi yang ditawarkan tersebut ? dan ternyata jawabannya tidaklah sebegitu mudah karena adanya proses rekruitmen yang didalamnya terdapat seleksi dan persaingan, hal ini menjadi sebuah pilihan mutlak dan keharusan dalam proses rekruitmen tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah refleksi mungkin dapat kita renungkan dalam proses Kongres GMKI XXX ini, mungkinkah Dicari Seorang Pemimpin ? sebuah kata yang tepat dalam mewarnai kongres ini, bahwa GMKI membutuhkan seorang pemimpin yang harus memenuhi kriteria-kriteria yang diharapkan dan sesuai dengan kebutuhan organisasi ini sehingga terjadi kesinambungan didalam perjalanan organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinamika kongres memberikan sebuah pandangan dan asumsi-asumsi bagi keberlangsungan GMKI dan hal ini harus disesuaikan dengan kebutuhan organisasi, siapapun bisa memimpin tetapi apakah kalimat tersebut dapat diklaim apakah seseorang dapat menjalankan roda organisasi ini ?, tentunya uji kepatutan dan kepantasan haruslah dilakukan dimana hal ini menjadi tugas dan tanggung jawab Kongres untuk mempersiapkan dan memilih pemimpin yang berpotensi dan revolusioner yang memiliki visi dan misi kedepan dalam mengemban amanat agung kongres untuk mengawal Organisasi ini kegarda terdepan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GMKI harus terus bergerak dan dinamis dalam menyikapi persoalan dan permasalahan kebangsaan baik itu kemiskinan, diskriminasi, kesenjangan sosial dan persoalan krusial lainnya begitu pula dalam menyikapi kondisi 3 medan penata layanan baik itu dalam Gereja, Perguruan Tinggi dan Masyarakat, GMKI diharapkan dapat menjadi tunas-tunas baru, lilin-lilin kecil yang dapat menyinari bagi bangsa dan negara ini, dalam hal internal organisasi, pembinaan, penciptaan dan pemberdayaan  kader-kader yang sesuai dengan kondisi kekinian dalam era globalisasi dan pasar bebas sudah sangat diperlukan bukan tidak mungkin GMKI akan ditinggalkan oleh mahasiswa oleh karena GMKI tidak dapat menjawab tantangan kemajuan jaman, kondisi ini mengharuskan pemimpin yang tanggap sehingga nantinya menyadari kondisi dan permasalahan tersebut, sehingga tidak hanya lebih peka dan tanggap tetapi juga ada aksi yang dilakukan untuk mengadakan perubahan dan pembaharuan semata-mata untuk kemajuan organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GMKI  harus dapat merefleksikan dan memproyeksikan dirinya  dalam menyikapi kebutuhan-kebutuhan apa yang saat ini krusial dan tepat guna sehingga dapat mereformasi dirinya, melakukan perubahan-perubahan dan pembenahan baik itu aspek internal ataupun internal organisasi sehingga GMKI menjadi tempat belajar dan menciptakan kader-kader terbaik sesuai dengan tujuan awal para Founding Father gerakan dalam menghadirkan sebuah kalimat (shalom Allah) didunia ini dapat terwujud, kalimat akhir dapat kita simpulkan â€œlowongan itu terbuka bagi siapapun yang beritikad memajukan gerakan ini. &lt;span style="font-family: arial;font-size:78%;" &gt;(Wilson Therik)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;*) Mantan Koordinator Wilayah II PP GMKI&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8529594036772229025-415454938567356596?l=syallomdailynews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/feeds/415454938567356596/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8529594036772229025&amp;postID=415454938567356596' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/415454938567356596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/415454938567356596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/2006/11/di-cari-seorang-pemimpin.html' title='DI CARI SEORANG PEMIMPIN?'/><author><name>SYALLOMDAILYNEWS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11374954624384231372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04405838010604872937'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8529594036772229025.post-458954084443136772</id><published>2006-11-22T23:08:00.000-08:00</published><updated>2006-11-22T23:23:35.878-08:00</updated><title type='text'>MASYARAKAT DALAM MENATAP DUNIA KERJA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;OLEH: ARMADO TAMBUNAN, SE *)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(Engkau sarjana muda berpacu dengan waktu, sia-sia ijazahmu) sebuah syair dari Iwan Fals, menggambarkan begitu peliknya problematika dunia pekerjaan dalam menatap pasar terbuka,  menjadi suatu tantangan yang mau atau tidak harus dihadapi oleh setiap elemen masyarakat khususnya pemuda dan mahasiswa, dimana pembangunan ekonomi dan pasar dunia menuntut pembenahan-pembenahan disegala sektor kehidupan, kebijakan ketenagakerjaan seharusnya lebih mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi dan akses pekerjaan sesuai ruang lingkup akademik dan kemampuan yang dimiliki tetapi kenyataan disini bangsa ini masih diperhadapkan kepada permasalahan pengangguran, minimnya lapangan pekerjaan, rendahnya tingkat upah dan aturan-aturan ketenaga kerjaan yang dalam hal ini cenderung menguntungkan para pengusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek Pengusaha dan tenaga kerja seharusnya dituntut menciptakan hubungan yang harmonis (industrial relationship) antara pengusaha dan tenaga kerja, hambatan dalam penciptaan tenaga kerja itu harus direduksi, dimana disuatu sisi, pengusaha diharapkan dapat memperoleh keuntungan dengan faktor-faktor produksi yang dimilikinya, dilain sisi pekerja mengarapkan upah yang sesuai ataupun lebih besar dari yang diharapkan. Fungsi campur tangan pemerintah dalam memberikaan kebijakaan tentang ketenaga-kerjaan tentunya harus menjadi katalis dalam memberikan kemudahaan-kemudahan dimana ada solusi yang saling menguntungkan antara pengusaha dan tenaga kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendala dan tantangan dalam mengahadapi pasar terbuka (Open Market) tentunya harus menjadi pemacu untuk dapat mempersiapkan diri yaitu dengan penciptaan lapangan pekerjaan baru, akses informasi yang luas dan lengkap sehingga dapat meningkatkan kualitas para pekerja itu sendiri. Kendala yang kita hadapi saat ini adalah lemahnya daya saing masyarakat itu sendiri baik itu dalam keahlian dan tingkat pendidikan sehingga tercipta tenaga-tenaga kerja murah dan kedepannya akan merugikan bangsa ini sendiri. Melihat dari sisi pasar tenaga kerja dimana permintaan akan  tenaga  kerja lebih rendah dibandingkan penyediaan tenaga kerja menimbulkan tingkat upah yang sangat rendah. Kondisi lain yang dihadapi adalah faktor skill yang terdiri dari kemampuan inteligence yang didapat dari strata pendidikan ataupun pelatihan-pelatihan yang pernah dilakukan dari hal ini dapat menurunkan daya saing masyarakat itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran campur tangan pemerintah tentunya dirasakan sangatlah perlu terhadap penciptaan lapangan pekerjaan baru, kebijakan mengenai pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah yang harus ditingkatkan, meningkatkan nilai tambah dari kualitas sumberdaya manusia itu sendiri baik dalam aspek Inteligence, emosional maupun spiritual quotience harus menjadi landasan dalam pembangunan dunia ketenagakerjaan di &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); background: transparent none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" id="lw_1164264822_0"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; yang tentunya dimulai dari pembenahan kualitas dunia pendidikan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran serta mahasiswa saat ini dituntut untuk lebih peka dimana mahasiswa sebagai pembawa arus perubahan tentunya juga harus mempersiapkan diri dalam menghadapi pasar kerja dunia tidak hanya memiliki kualitas akademik yang baik tetapi perlu didukung oleh sense of crisis terhadap permasalahan yang dihadapi bangsa ini. Faktor lain yang tidak lebih penting adalah ketika mahasiswa terjun kedalam masyarakat diharapkan dapat menciptakan lapanganan pekerjaan baru sesuai dengan bidang dan kemampuan yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapan kualitas sumber daya manusia ini tentunya menjadi masalah utama yang harus diselesaikam bersama yang tentunya harus melibatkan seluruh aspek pengambil keputusan, karena mau atau tidak mau kita harus terjun dan harus dapat mewarnai perubahan tersebut momen-momen seperti Kongres GMKI XXX harus menjadi refleksi dan proyeksi kedepan bagi mahasiswa dalam menyikapi dunia ketenagakerjaan. &lt;span style="font-family: arial;font-size:78%;" &gt;(Wilson Therik)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;*) Mantan Koordinator Wilayah II PP GMKI&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8529594036772229025-458954084443136772?l=syallomdailynews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/feeds/458954084443136772/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8529594036772229025&amp;postID=458954084443136772' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/458954084443136772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/458954084443136772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/2006/11/masyarakat-dalam-menatap-dunia-kerja.html' title='MASYARAKAT DALAM MENATAP DUNIA KERJA'/><author><name>SYALLOMDAILYNEWS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11374954624384231372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04405838010604872937'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8529594036772229025.post-2790573065769355537</id><published>2006-11-22T23:00:00.000-08:00</published><updated>2006-11-24T05:23:22.244-08:00</updated><title type='text'>PEREMPUAN DI TENGAH PARTISIPASI DALAM RUANG PUBLIK ANTARA TUNTUTAN, TANTANGAN DAN KENYATAAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;OLEH: DARMANTO F. KISSE ,SP,MP *)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Shalom !!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pertama-tama kita patut mengucapkan syukur pada Kepala Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan sekaligus selamat dan Sukses bagi Pengurus Pusat GMKI  dan Panitia Nasional Kongres XXX GMKI Tahun 2006, yang telah memberi nilai pada Forum tertinggi dalam organisasi GMKI yakni Kongres, yang  telah dibuka oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Apresiasi  yang tinggi kepada Pengurus Pusat GMKI dan Panitia Nasional Kongres XXX yang memiliki keberpihakan terhadap perjuangan kesetaran gernder, dengan diadakannya Pertemuan Perempuan GMKI, dengan tujuan memperdalam pemahaman Kader GMKI akan posisi dan peran Perempuan diruang publik, untuk menemukan model gerakan perempaun GMKI dan mengkonstruksi pemikiran progmatik bagi persiapan kader perempuan di ruang publik serta mendesign model struktur bagi pengoptimalisasian konsep pengembangan perempuan di ruang publik. Akan tetapi, sesungguhnya dalam suatu pemahaman analisis kritis, topik diatas belum memberikan tempat yang berarti bagi perempuan malah masih memposisikan perempuan sebagai subordinasi sekedar partisipan, adalah merupakan permasalahan yang senantiasa dijadikan acuan para pembahas, akan tetapi pada tataran empiris, dimana kaum perempuan diberi akses, justru yang terjadi adalah bahwa, ada kecenderungan kaum perempuan sendirilah yang memarjinalkan sesama kaumnya dan bahkan dapat dikatakan sebagai penjajah baru. Misalnya ibu-ibu yang memberikan tugas dan tanggungjawab mengasuh anaknya kepada mereka yang dikenal dengan penjaga/pengasuh bayi (baby sitter) dengan sejumlah balas karya dan bahkan ada yang memberikan balas yang tidak sesuai dengan Upah Minimum Propinsi (UMP) dan dalam masyarakatpun kita temui para pengasuh bayi atau pembantu rumah tangga ini di siksa oleh majikannya, yang nota bene adalah sesama kaum perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partisipan adalah sebuah makna suplemen yang berhadapan dengan  sebuah makna yang primer/utama. Mengapa hanya sekedar partisipasi perempuan ? mengapa menghitung peran perempuan hanya sekedar partisipan ? Partisipan dapat dikonotasikan sebagai peran figuran peran/ supporter yang kedudukannya tidak sama dengan dengan pelaku dan pemeran sesungguhnya atau tokoh sentral suatu lakon, misalnya kita sebagai bangsa pernah dipimpin oleh perempuan ataupun kita dapat mencontohi Israel yang pernah di pimpim oleh PM Goldemeir, atau Inggris yang dipimpin oleh PM Margareth Tacher bahkan mungkin dalam pengamatan ataupun pengalamankehidupan sosial kita pribadi di rumah tangga, tempat kerja, masyarakat dimana pembaca beraktivitas dan ada kecenderungan gaya/style/type kepemimpinan yang ditunjukkan adalah gaya otoritarian, dan masih banyak lagi contoh yang kita punyai baik dari hasil membaca, mengamati maupun pengalaman pribadi.&lt;br /&gt;Selain itu ada juga Pemahaman yang ingin dikonstruksi sebagai peran yang harus dimainkan perempuan sebagai warga komunitas bukan sekedar diberi nilai sebagai partisipan, adalah sebuah hak perempuan dan merupakan kewajiban bagi patnernya kaum lelaki. Perempuan dan laki- laki harus menjadi pelaku baik diruang domestik maupun diruang publik, tetapi juga harus diakui bahwa dalam diri manusia baik laki-laki maupun perempuan terdapat apa yang dinamakan (black area), sehingga jika tidak hati-hati kita terjerumus kesana dan berkecenderungan memunculkan gaya/style yang merendahkan kemanusiaan kita. Termasuk didalamnya perempuan GMKI yang hendak di bentuk melalui program yang didesign untuk itu.&lt;br /&gt;Untuk itu strategi akselerasi yang mesti ditempuh adalah bukan sekedar meminta, membujuk atau  merayu akan tetapi melakukan tuntutan melalui berbagai pola dan terobosan yang lebih komperhensif dan tentunya senantiasa didasarkan kasih dengan tujuan agar menumbuhkan kesadaran kemudian menjadi sesuatu yang mewujud dalam tindakan nyata dan senantiasa direvisi untuk kesempurnaan, sebagaimana yang diajarkan dan dicontohkan oleh Kepala Gerakan. Jadin bukan  intrik- kolulif dan bahkan intimidatif untuk meraih tujuan pribadi yang sengaca dan secara sadar di bungkus secara rapih menjadi seolah-olah tujuan bersama.&lt;br /&gt;Tuntutan itu harus menjadi kesadaran perjuangan bersama untuk menghasilkan terjadinya akselerasi peran yang harus dimainkan oleh perempuan di ruang public secara lebih proposional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntutan peran dan kinerja sektor publik bagi perempuan harus berhadapan dengan variable determinant antara lain sumber daya, pengetahuan/ kemampuan intelektual maupun teknis dan kompetisi/persaingan serta ketangguhan mental atau self concept yang kuat. Tanpa totalitas kemampuan diatas kinertja public bagi perempuan akan menjadi sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita harus meneguhkan komitmen  bahwa tantangan dan kesulitan apapun akan bisa teratasi, karena batu-batu karang yang ditempatkan dalam perjalanan kita adalah tempat untuk kita mendaki, bukan penghalang bagi kita untuk maju, termasuk perempuan secara kwantitas maupun kwalitas harus secara  nyata  menerobos ruang public bahkan mencapai posisi leader power, jika itu harus dan tentunya harus dilandasi bahwa Kepala Gerakanlah yang mengatur seluruh skenario dibawah kolong langit ini, termasuk para patner kaum lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;PEREMPUAN DAN PERADABAN&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta dan kondisi keterbelakangan perempuan adalah sebuah peta peradaban yang dilakoni dalam ketidak tahuan manusia akan kesetaraan.sehingga jika kita mengatakan bahwa perempuan adalah korban peradaban maka. Apa  sungguhnya  hutang peradaban, siapa yang harus membayarnya ? Kapan harus membayarnya ? bagaimanana caranya membayarnya. Menjawab hal ini tentunya tidak secara verbal, akan tetapi diperlukan adanya kesadaran dari kita baik laki dan perempuan untuk secara sadar melihat dan mengakui bahwa secara subtansial perempuan dan laki-laki mempunyai  kedudukan yang sama, Apa yang menjadi persoalan kodrati adalah sesuatu yang melekat pada bawaan jenis kelamin. Selain itu peran peran yang ada adalah sebuah rekayasa sosial yang masih harus didiskusikan secara sehat dan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terpenting kita mesti melakukan upaya dekonstruksi untuk secara bertahap dan terukur membangun paradigma dan stigma yang tidak timpang antara persepsi peran laki-laki dan perempuan. Ketimpangan akibat rekayasa sosial budaya ini akan mengakibatkan termarjinalisasinya manusia (perempuan atau lelaki) dalam sektor publik. Oleh karena itu, merekonstruksi perjalanan peradaban kedepan, harus disadari dan dilaksanakan secara baik, benar dan tepat oleh seluruh komunitas peradaban yakni negara/ pemerintah sebagai sebuah sistem, dan seluruh segmen sosial melalui akselerasi sistem dan regulasi serta perilaku kemasyarakatan dan tentunya individu baik perempuan maunpun lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;PROFIL PEREMPUAN DI RUANG PUBLIK&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran perempuan dalam ruang publik secara jumlah masih dirasakan minim, bahkan posisi perempuan pada level top manejemen/ leader pun masih dirasakan kurang. Tetapi apakah memang benar demikian dalam tataran empiris, sepertinya diperlukan suatu diskusi panjang untuk ini, karena sebagai patner yang setara dengan lelaki seharusnya perjuangan melalui  sistem regulasi untuk  mengenjot perempuan dalam ruang publik melalui sistem alokasi 30 % perlu dipikirkan kembali, karenanya dengan kuota tersebut sebenarnya merugikan kaum perempuan sendiri, karena dari segi jumlah penduduk terbaca bahwa perempuanlah jumlah terbesar, tetapi keterwakilannya hanya 30 % dan persoalan tidak mencapai target bahkan mengalami kemundurun karena pada beberapa kasus terjadi pengurangan perempuan adalah masalah lanjutan dari ketentuan yuridis formal tersebut merupakan suatu matarantai yang tidak terpisahkan, misalnya di parlamen pemilu 2004 dan di lembaga presiden dengan tidak terpilihnya Megawati  pemilu 2004, bukan karena persoalan jender semata tetapi karena style/ gaya kepemimpinan kaum perempuan yang menjadi â€œboomerangâ€ bagi dirinya secara pribadi, jadi dengan menjadikan teladan tidak terpilihya megawati karena kurangnya kesadaran gender bukan contoh dan jawaban yang tepat untuk persoalan gender diruang publik, tetapi persoalan kompetisi manusia (perempuan dan laki-laki) dalam dunia politik. Termasuk tuntutan terhadap kekalahan Perempuan dalam mendapat tempat yang signifikan dalam mekanisme pemilihan umum dengan sistem proposional daftar terbuka pemilu 2004, semakin nyata memberi jawab bahwa kepentingan pribadi cenderung dibungkus rapi dan diformulasi untuk dijadikan persoalan bersama dan ini sangat pragmatis dan tidak berorientasi gender, jika gender disepakati sebagai kesepakatan bersama dalam menkonstruksi peran sosial umat manusia (lelaki dan perempuan). Hal ini terbukti dari walaupun perempuan memiliki suara mayoritas diatas 50 %  pada pemilihan umum 2004 pun tidak mampu memberikan dan menghantar perempuan keruang legeslatif karena perjuangan gender masih didominasi oleh kepentingan diri yang diberikan kemasan, sehingga tidak atau belum terciptanya kohesitas dikalangan perempuan sendiri.&lt;br /&gt;Jika kita mau bersepakat untuk membangun peradaban baru, maka diperlukan pembenahan sistem termasuk regulasi disemua bidang politik dengan memberi masa konsolidasi dan rehabilitasi peran perempuan, tetapi perlu diingat bahwa dalam perjalanan kedepan, laksana kita mengemudi mobil, maka 80 % kita harus memperhatikan kedepan  dan hanya 20 % saja kita sesekali memperhatikan kebelakang, jika tidak maka akan terjadi kecelakaan lalulintas karena ketidak benaran dalam mengemudikan kendaraan peradaban yang ingin kita kosntruksi atas dasar kesetaraan gender, ia khan mama boy, dong ?  sehingga tuntutan agar Negara harus menjamin sistem Quota perempuan diparlemen dan di eksekutif dalam rentang masa tertentu dan kemudian setelah perempuan terkonsolidasi secara kwalitas dan kwantitas baru kita masuk dalam era kesetaraan  yang bebas quota karena perempuan dan laki- laki sudah memiliki akses yang sama dan adil., merupakan cara berpikir yang benar tetapi perlu diingat bahwa dalam mencari pemecahan suatu masalah tidak selamanya harus dimulai dari luar dan itu yang paling benar, tetapi perlu datang dari dalam atau tepatnya kaum perempuan tidak perlu mengalokasikan energi terbesar pada upaya menuntut saja tetapi sebaliknya lebih diorientasikan pada penataan dari dalam diri secara pribadi maupun secara bersama dan menunjukkan kemampuan dan karya bukan dengan melakukan kampanye yang sebatas pembicaraan alias kader modal bibir saja, alias kader banyak bicara tanpa karya yang menjawab kebutuhan diri maupun sesamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah tulisan sederhana ini dipersembahkan bagi setiap kader GMKI, teristimewa para Perempuan GMKI yang sementara berjuang dan mau membentuk diri untuk kinerja publik pasca Kongres XXX GMKI yang mulia, semoga berguna dalam upaya membangun peradaban baru, sebagaimana yang digambarkan dalam Alkitab sebagai dunia tanpa ketimpangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat berjuang Kepala Gerakan Pasti memberkati kita, teriring salam dan doa tulus. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ut Omnes Unum Sint.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Wilson Therik)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;*) Mantan Sekretaris BPC GMKI Kupang masa bhakti 1992-1994&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8529594036772229025-2790573065769355537?l=syallomdailynews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/feeds/2790573065769355537/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8529594036772229025&amp;postID=2790573065769355537' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/2790573065769355537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/2790573065769355537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/2006/11/perempuan-di-tengah-partisipasi-dalam.html' title='PEREMPUAN DI TENGAH PARTISIPASI DALAM RUANG PUBLIK ANTARA TUNTUTAN, TANTANGAN DAN KENYATAAN'/><author><name>SYALLOMDAILYNEWS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11374954624384231372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04405838010604872937'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8529594036772229025.post-8827402898160437569</id><published>2006-11-22T22:18:00.000-08:00</published><updated>2006-11-24T05:26:13.955-08:00</updated><title type='text'>KONGRES GMKI DAN PEMIMPIN MASA DEPAN BANGSA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;OLEH GURGUR MANURUNG *)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;             Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) akan melakukan Kongres              Nasional XXX pada tanggal 5-12 November 2006 di Kupang. Kongres ini              merupakan pengambilan keputusan tertinggi di tingkat nasional.              Pertemuan akbar inilah yang membahas dan memutuskan masa depan GMKI              dan pemilihan pengurus baru. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;             Eksistensi GMKI kini dipertanyakan banyak orang. “Masihkah ada GMKI?”              Tanya seorang wartawan muda Kristen sebuah harian nasional.              Pertanyaan ini seringkali muncul di kalangan komunitas Kristen,              khususnya komunitas yang kurang peduli dengan wacana politik. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;             GMKI hadir sebagai anak kandung Gereja yang berfungsi sebagai              perpanjangan tangan Gereja. GMKI melaksanakan tugas Gereja untuk              menghadirkan syaloom Allah di kampus. Inilah visi GMKI. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;             Untuk menghadirkan syaloom Allah di kampus, kegiatan pokok GMKI yang              tertulis dalam penjelasan Anggaran Dasar (AD) GMKI adalah melakukan              Penelaahan Alkitab (PA). Dalam penjelasan AD secara ekspilisit              tertulis “jikalau GMKI meninggalkan kegiatan PA maka akan terjadi              erosi dalam tubuh GMKI”. Apakah GMKI telah melupakan PA sehingga              terjadi erosi?. Saya melihat itulah yang terjadi. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;             Jikalau GMKI komitmen dengan tri panjinya, yaitu Tinggi Iman, Tinggi              Ilmu, dan Tinggi Pengabdian maka pendapat masyarakat yang sebenarnya              fakta itu tidak pernah terjadi. Tri panji itu haruslah dimiliki              kader GMKI di tiga medan pelayanannya, yaitu Gereja, Masyarakat, dan              Perguruan Tinggi.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;             Suka atau tidak, sejarah membuktikan bahwa GMKI di tingkat nasional              maupun daerah dianggap pemerintah sebagai representasi mahasiswa              Kristen. Jikalau ada persoalan bangsa, utamanya dalam urusan politik,              pemerintah menganggap GMKI sebagai representasi mahasiswa Kristen.              Tidak hanya pemerintah, organisasi mahasiswa Islam, Hindu, Buddha,              Konghucu juga mengganggap GMKI sebagai representasi mahasiswa              Kristen. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;             Mengingat GMKI sebagai terminal kader maka GMKI masih relevan dan              strategis untuk dibenahi dalam rangka menghasilkan manusia yang              berintegritas dan visioner untuk membangun bangsa yang beradab. Kita              menyadari kader GMKI ada yang terlibat dalam pemiskinan dan              pembodohan bangsa ini. Mereka yang terlibat itu adalah para kader              yang pintar berwacana tetapi terlibat dalam KKN. Sadar atau tidak              sadar KKN menjadi akar kompleksnya persoalan bangsa. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;             Buruknya pendapat masyarakat dan hal yang dipertontonkan kader GMKI,              tidak fair juga jika kita tidak melihat kader-kader GMKI yang              bertahan dengan integritasnya di dunia pendidikan, profesional,              menjadi birokrat, dan menjalani berbagai profesi. Anehnya, mereka              yang konsisten dengan tri panji itu tidak populer dan seolah-olah              mereka bukan idola. Seharusnya, merekalah yang menjadi teladan bagi              kader-kader GMKI. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;             Sebagai contoh, seorang profesor di perguruan tinggi terkemuka di              Bogor yang kini telah pensiun tidak makan nasi sejak puluhan tahun              lalu dalam rangka menentang kebijakan Suharto yang menyeragamkan              pangan di Indonesia. Dia adalah salah satu pendiri GMKI cabang Bogor              bersama Hutasoit, mantan menteri peternakan dan perikanan yang juga              pernah menjabat rektor Institut Pertanian Bogor (IPB). Kita juga              mengenal Johanes Leimena yang dipercaya Soekarno karena              integritasnya. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;             Kader GMKI yang kini tetap eksis dalam agenda reformasi adalah              Jacobus Mayongpadang yang kita kenal bersama menolak uang rakyat di              DPR. Selain itu, kita mengenal Alex Litaay, Sukowaluyo Mintoharjo,              Yasona Laoly, dan masih banyak deretan nama kader GMKI yang terkenal              dengan integritas dan komitmennya terhadap pencerdasan anak bangsa.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;&lt;br /&gt;Dikotomi Timur-Barat&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;             Salah satu penyebab reduksi nilai persekutuan yang terjadi di              internal GMKI adalah adanya wacana Timur-Barat yang berkembang dalam              proses pemilihan Pengurus Pusat (PP) GMKI. Wacana ini disadari atau              tidak, menunjukkan kekerdilan pemikiran internal GMKI. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;             Sebagai kader GMKI yang mengakui Kristus sebagai kepala gerakan,              tentu saja ketika mewacanakan Timur-Barat mereka menggambarkannya              sebagai murid Kristus. Sebagai murid Kristus, idealnya wacana yang              dikembangkan adalah pertumbuhan rohani. Kader yang rohaninya              bertumbuh dengan baik, layaklah kita dorong memimpin GMKI. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;             Tanpa pertimbangan pertumbuhan rohani, GMKI kehilangan esensinya              sebagai perpanjangan tangan Gereja di tiga medan pelayanannya.              Pertumbuhan rohani yang saya maksud bukanlah sekadar pemahaman              Alkitab vertikal saja. Tetapi lebih kepada pemahaman Alkitab yang              mendalam dan kapasitasnya memengaruhi publik dengan kemampuan yang              dimilikinya. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;             Artinya, pertimbangan peserta kongres untuk memilih PP adalah mereka              yang rohaninya bertumbuh dan mampu memberi sumbangsih pemikiran dan              tindakan dalam membangun bangsa dan negara secara optimal. Jikalau              kemampuan ini dimiliki maka PP mampu mengatasi persoalan internal              dan memberi kontribusi optimal di tiga medan pelayanannya.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;             &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;             Prioritas Kegiatan GMKI&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;             &lt;/span&gt;Melihat perubahan global yang tidak terelakkan, di mana perubahan              itu menyangkut etika, maka GMKI harus kembali kepada visi awal GMKI.              Visi awal itu adalah menghadirkan syaloom Allah di kampus. Untuk              menghadirkan syaloom Allah dikampus maka kader GMKI harus memahami              Alkitab dengan benar. Pemahaman Alkitab dengan benar akan              menghasilkan kader GMKI yang integritasnya terjamin. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:130%;"  &gt;             Kader yang integritasnya terjamin niscaya akan membangun bangsa              Indonesia yang bermartabat di masa yang akan datang. Dengan kata              lain, kita tidak mendengar lagi ada kader GMKI yang terlibat KKN dan              semacamnya. Kader GMKI ke depan adalah kader yang hidupnya sederhana              dan memiliki dampak global menuju masyarakat dunia yang beradab. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;             &lt;span style=";font-family:arial;" &gt;Seperti kata Nelson Mandela, “Visi tanpa misi adalah mimpi. Visi              dengan Misi akan mengubah dunia”. GMKI memiliki visi dan misi yang              jelas. Dengan demikian GMKI harus mampu merubah dunia membangun              perdaban. Hanya, kader GMKI harus taat dengan visi dan misi yang              mulia itu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:georgia;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ut Omnes Unum Sint&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:85%;"  &gt; (Wilson Therik)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:130%;" &gt;*) Senior GMKI Cabang Jakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8529594036772229025-8827402898160437569?l=syallomdailynews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/feeds/8827402898160437569/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8529594036772229025&amp;postID=8827402898160437569' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/8827402898160437569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/8827402898160437569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/2006/11/kongres-gmki-dan-pemimpin-masa-depan.html' title='KONGRES GMKI DAN PEMIMPIN MASA DEPAN BANGSA'/><author><name>SYALLOMDAILYNEWS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11374954624384231372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04405838010604872937'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8529594036772229025.post-3808085458550091739</id><published>2006-11-22T18:28:00.000-08:00</published><updated>2006-11-24T05:25:21.325-08:00</updated><title type='text'>TANGGUNGJAWAB SOSIAL GMKI TERHADAP MASYARAKAT SEBAGAI WUJUD SPIRITUALITAS</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;OLEH: WILSON M.A. THERIK&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakannya di bawah gantang, melainkan diatas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.” &lt;i&gt;(Matius 5:13-15)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="id-ID"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;DALAM Terang Tema: &lt;i&gt;Bertolong-Tolonglah Menanggung Bebanmu (Galatia 6:2)&lt;/i&gt; dengan Subtema: &lt;i&gt;Menumbuhkan Spiritualitas Kemanusiaan Dalam Perjuangan Mewujudkan Keadilan, Persatuan dan Demokrasi di Indonesia. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="id-ID"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Penulis mengamini subtema Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dengan beberapa alasan: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;, &lt;/i&gt;mahasiswa kristen baik yang tergabung dalam GMKI, Perkantas, LPMI, Pemuda Gereja atau institusi pendidikan lainnya seolah-olah kehilangan “roh” pelayanan dan pengabdian kepada masyarakat dimana mahasiswa tersebut berada. Pendapat ini bertolak pada asumsi bahwa seharusnya GMKI tidak secara eksklusif “bergerak” pada perguruan tinggi kristen saja tetapi mampu mengajak atau menarik minat mahasiswa kristen dari institusi pendidikan lainnya yang ada. (Seperti Universitas Katholik Widya Mandira, Universitas Muhammdyah, STIBA Cakrawala Nusantara dan beberapa perguruan tinggi lainnya yang ada di Kota Kupang dimana sejumlah mahasiswa kristen berada di sana). &lt;b&gt;&lt;i&gt;Kedua, &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;bahwa pelayanan dan pengabdian pada masyarakat menjadi aktualisasi iman kristen seperti dinyatakan pada ayat alkitab yang dikutib pada awal tulisan ini. GMKI  harus mau dan mampu menjadi garam dan terang dunia. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ketiga, &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;sebagai wahana kontemplasi terhadap perjalanan GMKI dalam memenuhi ruang kesejarahannya. Artinya bahwa apabila sebelum ini tanggung jawab sosial GMKI terhadap masyarakat masih belum optimal maka Kongres Nasional XXX GMKI diharapkan menjadi momentum untuk menjadi tonggak kesejarahan GMKI dalam keberpihakan pada masalah aktual kemasyarakatan. Dan tanggung jawab sosial tidak sekedar menjadi diskursus pada ruang kelas tetapi benar-benar diwujudnyatakan dan sekaligus menjadi sikap batin GMKI dalam mengawal pergerakan dinamis masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;font-size:130%;"&gt;Namun dalam subtema tersebut muncul ketumpang-tindihan terminologis yang mungkin tidak sengaja dilakukan. Untuk itu dibutuhkan semacam klarifikasi terhadap ketumpang-tindihan terminologis, yaitu tanggung jawab sosial seharusnya merupakan (bagian) spiritualitas institusi. Sehingga tanpa spritualitas tersebut, mahasiswa kristen tidak eksis dalam melakukan pegerakan atau “berada dalam ketiadaan”, karena mahasiswa tidak mungkin tercerabut dari masyarakat, karena apabila demiikian maka individu mahasiswa tersebut mengalami kegamangan eksistensi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="id-ID"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Ataukah memang selama ini GMKI mengalami kegamangan eksistensi sehingga membutuhkan pembahasan tema “spritualitas mahasiswa kristen” dengan subtema tanggung jawab sosial terhadap masyarakat. Kegamangan eksistensi dalam bahasa Perjanjian Baru adalah sudah menjadi &lt;u&gt;tidak asin&lt;/u&gt; atau keberadaan mahasiswa kristen selama ini diletakkan dibawah “gantang” lembaga universitas sehingga aktualisasi tanggung jawab sosialnya tidak terpancar secara nyata dan terperangkap oleh panca indera masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="id-ID"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;Penulis menyadari ada keterbatasan individual untuk dapat mengungkap secara komprehensif fakta aktivitas pergerakan mahasiswa kristen dan GMKI. Keterbatasan tersebut mengakibatkan cara pandang yang sempit &lt;i&gt;(narrow perspective)&lt;/i&gt; terhadap eksistensi mahasiswa kristen dan GMKI. Tetapi yang terpenting saat ini adalah kesadaran perlunya memanggil kembali &lt;i&gt;(recalling)&lt;/i&gt; tanggung jawab sosial mahasiswa kristen dalam keterkaitannya dengan masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;Takrif Spiritualitas&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;font-size:130%;"&gt;Spiritualitas sering memiliki konotasi yang mengarah ke sesuatu di luar dunia atau mengimplikasikan bentuk disiplin religius tertentu. Namun dalam makna yang lebih luas spiritualitas menunjuk pada nilai dan makna dasar yang melandasi hidup kita, baik duniawi maupun yang tidak duniawi, entah sadar atau tidak meningkatkan komitmen kita terhadap nilai-nilai dan makna tersebut. Sehingga mengacu pada definisi spiritualitas maka dalam pengertian yang luas berkaitan dengan nilai atau makna dari kehakekatan manusia yang mengarah pada kelanggengan yang melandasi kehidupannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;font-size:130%;"&gt;Dalam pemahaman yang demikian maka spiritualitas menjadi pondasi dasar dalam melakukan aktivitas yang mengarahkan pada aktualisasi nilai-nilai yang dianut. Nilai-nilai tersebut mempengaruhi gerak langkah individu dalam pencapaian cita-cita personal atau pada saat berinteraksi dengan sesamanya. Sehingga spiritualitas menjadi pendorong atau daya penggerak dalam mengintepretasi dirinya dan lingkungannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;Ruang Lingkup GMKI&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt; Seperti disinggung di atas bahwa dibutuhkan klasifikasi cakupan mahasiswa kristen, karena terdapat beberapa kemungkinan yaitu (1) mahasiswa kristen dalam arti yang luas dan (2) mahasiswa kristen yang berada dalam naungan perguruan tinggi kristen (seperti di UKAW Kupang, UKSW Salatiga, UKI Jakarta, UKI Maluku, UKI Paulus Makassar, Universitas HKBP Medan, UK Petra Surabaya, dll). Kategori yang pertama seharusnya menjadi ladang garapan dari GMKI, sehingga secara &lt;i&gt;a contrario&lt;/i&gt; bahwa mahasiswa kristen di perguruan tinggi kristen hanya menjadi bagian kecil dari GMKI. Pemahaman terhadap kategori mahasiswa kristen ini berkolerasi dengan aktualisasi spiritualitas dalam melaksanakan tanggung jawab sosial.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;font-size:130%;"&gt; Dengan melihat mahasiswa kristen dalam arti luas, kepekaan terhadap realisasi tanggung jawab sosial semakin besar. Dimana mahasiswa kristen yang berinteraksi dengan lingkungan sosial dapat mentransformasikan kompetensi keilmuannya dalam lingkungan tersebut. Kepekaan terhadap kondisi lingkungan sosial akan mempengaruhi tingkat kepedulian dalam mendarma-baktikan kompetensi keilmuannya yang tidak sekedar pada mahasiswa kristen yang berstatus mahasiswa perguruan tinggi kristen tetapi juga mahasiswa kristen yang non-perguruan tinggi kristen.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;font-size:130%;"&gt; Cara pandang melihat ruang lingkup mahasiswa kristen ini menjadi ajang awal pelatihan dalam mengasah tanggung jawab sosial. Cara pandang ini menjadi penentu seberapa besar kemauan untuk mengemban tanggung jawab sosial dan mengupayakan aktualisasinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;font-size:130%;"&gt; Dalam pembahasan ruang lingkup mahasiswa kristen termasuk memahami karakteristik denominasi gereja, secara garis besar dapat dibagi menjadi dua: gereja mainstream dan non mainstream. Pemahaman ini diperlukan untuk melahirkan simpati atau mengajak terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Strategi untuk melahirkan simpati atau mengajak terlibat menjadi tugas penting sebagai upaya membangun jejaring dalam melakukan pergerakan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;Tanggung Jawab Sosial dan Kewajiban Moral GMKI&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;font-size:130%;"&gt; Tanggung jawab sosial GMKI dalam perspektif penulis  diletakkan dalam nats Alkitab yang dikutip diawal tulisan ini yaitu menjadi garam dan terang bagi masyarakat dimana mahasiswa kristen itu berada. Dalam konteks spiritualitas (kristen) maka GMKI harus menampilkan dirinya sebagai aktor yang dapat memberikan “rasa” lain dan sekaligus menerangi gerak perkembangan masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt; Elaborasi garam dan terang sebagai tanggung jawab sosial GMKI dapat mengejawantah dalam setiap aspek kehidupan masyarakat. Pengejawantahan tanggung jawab sosial tidak sekedar menjadi “&lt;i&gt;lips service&lt;/i&gt;” semata. Karena segala tanggung jawab sosial sudah menjadi komitmen bagi GMKI maka mengandung kewajiban moral. Istilah kewajiban berarti menuntut pemenuhan apa yang diwajibkan, dimana apabila tidak terpenuhi kewajiban yang dimiliki dapat dikenakan sanksi sosial.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;font-size:130%;"&gt; Cara pandang ini mungkin normatif-legalistik, tetapi dalam konteks sosiologi bahwa ketidakmampuan memenuhi kewajiban berimbas pada hukuman yang diberikan masyarakat kepada individu atau organisasi. Dan terkadang sanksi sosial sangat efektif memberikan efek jera bagi perilaku yang tidak sesuai dengan kewajiban yang diemban. Individu atau organisasi yang dikenai sanksi sosial maka keberadaannya sudah menjadi tidak diakui.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt; Menjadi garam dan terang dalam pergumulan GMKI menurut penulis secara garis besar adalah: (1) advokasi/pendampingan pihak yang lemah; (2) memerangi kemiskinan; (3) pemberantasan korupsi; (4) memperjuangkan demokrasi dan pluralisme. Keempat hal tersebut apabila diperas substansinya adalah kepedulian terhadap sesuatu yang berada diluar dirinya. GMKI dituntut untuk tidak menjadi egois atau &lt;i&gt;selfish&lt;/i&gt;, tetapi harus melihat analogi garam dan terang (lilin/pelita). Garam untuk dapat memperkuat rasa dia harus melebur dirinya dalam masakan atau adonan, demikian pula lilin ketika memberikan penerangan membakar dirinya agar lingkungan disekitarnya dapat dipenuhi terang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"  style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt; Kepedulian terhadap sesama menuntut pengorbanan. Pengorbanan dimaksud dalam segala aspeknya, seperti yang pernah Yesus berikan kepada umat manusia. Pengorbanan Yesus harus menjadi inspirasi dan &lt;i&gt;benchmark&lt;/i&gt; bagi pergerakan GMKI. Demi keselamatan manusia, Yesus mau dan mampu memberikan dirinya menanggung dosa manusia (Lihat Filipi 2:5-8). Maukah GMKI memberikan dirinya dalam mengaktualisasikan tanggung jawab sosialnya?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;font-size:130%;"&gt; Dalam aras nasional GMKI seperti “katak dalam tempurung”, lebih memilih “berasyik-masyuk” dalam kubangan status kemahasiswaan daripada memilih mengabdikan pengetahuannya untuk masyarakat. Dimanakah GMKI ketika korupsi digemakan? Dimanakah GMKI ketika PKL diancam hak ekonominya? Dimanakah GMKI tatkala rakyat menjerit karena busung lapar, dan gizi buruk? Dimanakah GMKI ketika hukum tak pernah menyentuh pencari keadilan di negeri ini?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;Purna Wacana&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Arial,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;GMKI belum mampu dan belum mau menjadi aktor dalam membantu atau mengawal perubahan bagi masyarakat kecil yang selalu tertindas. Untuk itu kesadaran  akan perlunya tanggung jawab sosial menjadi modal awal yang harus diikuti dengan rencana aksi GMKI harus terlibat dalam perjalanan penerapan nilai-nilai demokrasi dengan suatu langkah nyata dengan mengesampingkan sekat-sekat ideologis maupun primordialisme. Apabila GMKI &lt;i&gt;concern&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family: arial; font-weight: bold;"&gt;terhadap keberlanjutan Indonesia sebagai sebuah negara maka GMKI harus mengambil peran sebagai lokomotif demokrasi&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Wilson Therik)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8529594036772229025-3808085458550091739?l=syallomdailynews.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/feeds/3808085458550091739/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=8529594036772229025&amp;postID=3808085458550091739' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/3808085458550091739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8529594036772229025/posts/default/3808085458550091739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syallomdailynews.blogspot.com/2006/11/tanggungjawab-sosial-gmki-terhadap.html' title='TANGGUNGJAWAB SOSIAL GMKI TERHADAP MASYARAKAT SEBAGAI WUJUD SPIRITUALITAS'/><author><name>SYALLOMDAILYNEWS</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11374954624384231372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04405838010604872937'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry></feed>